Dalam sepekan, IHSG berhasil bangkit dari titik terendahnya, didorong oleh perubahan sentimen global dan respons kebijakan domestik yang agresif, meskipun investor asing masih mencatatkan arus keluar yang besar.
8 Juni 2026: Titik Nadir IHSG
Pada 8 Juni 2026, IHSG ditutup melemah 4,52% ke level 5.342, membuat indeks ambrol -38,22% secara year-to-date (YTD). Pelemahan ini merupakan puncak dari akumulasi sentimen negatif:
Eksternal: Data ketenagakerjaan AS yang kuat memicu kekhawatiran kenaikan suku bunga The Fed, sementara ketegangan geopolitik di Timur Tengah mendorong harga minyak melonjak ke atas asumsi APBN.
Domestik: Rupiah melemah ke level terendah sejak krisis 1998 (Rp 18.188 per USD), diiringi spekulasi RDG darurat BI, isu pergantian pejabat ekonomi, serta kekhawatiran penurunan peringkat dan status pasar Indonesia oleh MSCI.
Aksi Asing: Investor asing tercatat net sell Rp 447 miliar pada hari itu, menambah tekanan pada indeks.
9-15 Juni 2026: Reli Pemulihan
Memasuki pekan berikutnya, IHSG berbalik arah dengan penguatan total 10,56% dalam lima hari bursa (9-15 Juni 2026), mengangkat posisi YTD menjadi -27,66% di level 6.254.
Kebijakan BI (9 Juni): Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) dari 5,25% menjadi 5,50% di luar jadwal reguler. Langkah “kejutan” ini efektif menstabilkan rupiah dan memulihkan kepercayaan pasar.
Sentimen Global (15 Juni): Pengumuman kesepakatan damai AS-Iran yang akan ditandatangani pada 19 Juni meredakan ketegangan geopolitik. Minyak dunia turun, dan pembukaan kembali Selat Hormuz mengurangi risiko pasokan energi.
Sentimen Domestik: Adanya program buyback saham bank-bank BUMN (Himbara) dan evaluasi program MBG turut mendorong optimisme pasar.
Konteks Aliran Modal Asing
Meskipun IHSG menguat, data asing menunjukkan cerita yang berbeda:
Net Sell Akumulasi: Sepanjang tahun hingga 15 Juni 2026, net sell asing mencapai Rp 67,45 triliun, menunjukkan bahwa secara struktural, dana asing masih keluar dari pasar Indonesia.
Net Sell Harian: Sepanjang periode pemulihan (9-15 Juni), asing masih mencatatkan net sell, kecuali pada 12 Juni yang mencatat net buy Rp 287 miliar.
Kesimpulan: Reli IHSG lebih banyak ditopang oleh investor domestik dan aksi tactical buying asing pada saham-saham tertentu, bukan merupakan pemulihan arus modal asing secara struktural.
Singkatnya, pergerakan IHSG pada periode 8-15 Juni 2026 adalah cerminan “perang” antara sentimen negatif akut yang memuncak di awal pekan, dengan respons kebijakan dan kabar baik geopolitik yang memicu technical rebound kuat, namun masih dibayangi oleh arus keluar modal asing yang masif.

Tulisan ini mengabaikan agenda:
16-17 Jun 2026=> FED Meeting
17-18 Jun 2026=> Rapat Dewan Gubernur BI
18 Jun 2026=> MSCI Global Market Accesibility Review 2026
19 Jun 2026=> FTSE rebalancing
23/24 Jun 2026=> MSCI Annual Market Classification Review
Jika ingin berlangganan artikel karya Saham Daily edisi BULETIN dan CIRCULAR, klik link di bawah ini atau Whatsapp ke 085737186163
Langganan Saham Daily Services: Buletin, Circular, Database & Info Saham Terkini