IHSG berhasil mencetak reli hijau selama sembilan hari berturut-turut (9–21 Juli 2026), melonjak dari 5.912 ke 6.340 atau menguat sekitar 7,93%. Penguatan ini didorong oleh kombinasi faktor domestik dan eksternal:
Faktor Domestik (Pendorong Utama)
Musim Laporan Keuangan Semester I-2026: Antusiasme investor menyambut rilis laporan keuangan kuartal II dan semester I 2026 menjadi katalis utama. Sektor perbankan, khususnya big caps seperti BBRI, BMRI, dan BBCA, menjadi motor penguatan karena diperkirakan akan mencatatkan kinerja solid.
Saham Bank & Emiten Big Caps: Saham perbankan berkapitalisasi besar menjadi penopang utama indeks, dengan kontribusi signifikan dari BBRI, BMRI, dan BBCA. Emiten seperti AMMN dan DSSA juga menjadi penggerak utama pada penutupan reli.
Sentimen Regulasi & Kebijakan Pemerintah: Pengesahan RUU Pusat Financial Internasional Indonesia (PFII) oleh DPR pada 21 Juli memberikan sentimen positif. Selain itu, komitmen pemerintah menjaga inflasi dan tidak menaikkan tarif pajak turut meningkatkan kepercayaan investor.
Likuiditas Domestik yang Kuat: Rotasi sektoral dan likuiditas domestik yang solid menjaga stabilitas IHSG di tengah tekanan eksternal. Aktivitas perdagangan sangat ramai, dengan nilai transaksi menembus Rp 21,50 triliun pada hari terakhir reli.
Technical Rebound: Setelah mengalami tekanan dalam beberapa waktu terakhir (IHSG sempat minus 15,85% dalam 3 bulan), investor mulai melakukan akumulasi kembali, terutama pada saham big caps likuid.
Peringkat Kredit Indonesia: Keputusan S&P Global Ratings yang mempertahankan peringkat kredit Indonesia di BBB dengan outlook stabil menjadi sentimen positif.
Faktor Eksternal
Aliran Modal Asing (Inflow): Investor asing mulai kembali masuk, dengan net foreign buy harian sebesar Rp 31,36 miliar dan akumulasi Rp 972,21 miliar dalam lima hari terakhir. Saham yang banyak diborong asing antara lain ANTM, PTRO, dan BMRI.
Kondisi Global yang Direspon Positif: Meski ada tekanan, beberapa kondisi global justru dimanfaatkan sebagai peluang. Inflasi AS yang melandai meningkatkan selera investor internasional terhadap aset RI, dan keputusan Bank Sentral China menahan suku bunga memberikan stabilitas. Reli ini terjadi di tengah eskalasi konflik AS-Iran yang memicu kenaikan harga minyak. Pada akhirnya, sentimen eksternal yang membayangi (konflik Timur Tengah, penguatan dolar AS) tidak mampu menghentikan momentum penguatan yang didorong oleh faktor domestik yang kuat.
Reli ini merupakan akumulasi dari kuatnya sentimen domestik (terutama musim laporan keuangan dan regulasi) yang berhasil mengatasi tekanan eksternal, dengan aliran modal asing yang kembali masuk sebagai katalis tambahan.

Setelah reli 9 hari yang mengesankan, IHSG akhirnya masuk ke fase koreksi. Ada beberapa faktor utama yang mendorong aksi jual ini.
Penyebab paling dominan adalah aksi ambil untung. Dalam sebulan, IHSG sempat melesat lebih dari 12%. Wajar jika investor mulai merealisasikan keuntungan. Saham-saham bank besar seperti BBRI, BMRI, dan BBCA menjadi sasaran utama aksi jual.
Secara teknikal, IHSG gagal menembus level psikologis 6.400 meski sempat menyentuh 6.394. Kegagalan ini memicu aksi jual, terutama di saham bank dan sektor transportasi. Reli juga mulai kehilangan momentum (tercermin dari RSI yang memudar).
Investor asing melakukan aksi jual bersih (net sell) yang signifikan. Pada 22 Juli saja, net sell asing mencapai Rp 920 miliar – Rp 1,11 triliun, dan berlanjut hingga pekan berikutnya (Rp 490,6 miliar).
Sentimen Eksternal yang Membayangi
Konflik Timur Tengah & Harga Minyak: Eskalasi konflik mendorong harga minyak mentah, memicu kekhawatiran inflasi global.
Ketidakpastian Global: Investor mencermati pertemuan The Fed dan laporan keuangan emiten teknologi global.
Faktor Domestik: Kejutan dari Bank Indonesia
Pengumuman BI yang mempertahankan suku bunga di 5,75% (di bawah ekspektasi kenaikan 25 bps) justru memicu position adjustment di pasar.
Faktor Non-Ekonomi: Spekulasi Kepemimpinan BI
Isu mundurnya Gubernur BI Perry Warjiyo menambah ketidakpastian. Pada 27 Juli, IHSG sempat menyentuh level terendah 6.144 sebelum pulih tipis di 6.185. Sebagai catatan, koreksi ini adalah hal yang wajar setelah kenaikan tajam. Namun, kombinasi aksi ambil untung, sentimen eksternal yang memburuk, dan ketidakpastian domestik membuat tekanan berlanjut hingga akhir Juli 2026.
Disclaimer On: Tulisan ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham tertentu. Keputusan Investasi/Trading sepenuhnya ada di tangan pembaca. Saham Daily tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari Keputusan Investasi/Trading yang dilakukan oleh Pembaca.
Mau berlangganan Buletin, Circular, Database Saham Daily, dan mendapatkan Info Saham Terkini, serta gabung ke Sahamdaily Circle, klik link di bawah ini:
Langganan Saham Daily Services: Buletin, Circular, Database & Info Saham Terkini