Strategi ketahanan energi China

Sebagai ekonomi terbesar kedua di dunia, kebutuhan energi China sangatlah masif dan sedang mengalami transisi struktural yang sangat cepat di tahun 2026. China bukan lagi sekadar konsumen batu bara, melainkan pemimpin dunia dalam konsumsi dan produksi energi bersih.
​Berikut profil dan rincian kebutuhan energi China:
​1. Rekor Konsumsi Listrik Terbesar Dunia
​Hingga awal 2026, konsumsi listrik China telah mencatatkan rekor baru, menembus 10,37 triliun kWh per tahun.
​Sebagai perbandingan, jumlah ini melampaui gabungan konsumsi listrik Uni Eropa, Rusia, India, dan Jepang.
​Pertumbuhan permintaan listrik China mencapai 5,7% per tahun, didorong oleh digitalisasi dan elektrifikasi transportasi.
​2. Pergeseran Sektor Penentu (New Productive Forces)
​Jika dulu kebutuhan energi China digerakkan oleh industri berat (semen, baja), kini penggeraknya telah berubah:
​Internet & Data Center: Penggunaan listrik oleh sektor internet melonjak lebih dari 30%. Ini sejalan dengan upaya China membangun hub komputasi raksasa di wilayah Barat.
​Kendaraan Energi Baru (NEV): Konsumsi listrik untuk pengisian daya mobil listrik (EV) dan hibrida naik lebih dari 20%. Mulai 1 Januari 2026, China bahkan menerapkan standar nasional wajib baru untuk efisiensi energi kendaraan listrik murni.
​Manufaktur Canggih: Produksi panel surya, baterai, dan semikonduktor membutuhkan pasokan listrik yang stabil dan berkelanjutan.
​3. Bauran Energi (Energy Mix) 
​China sedang berada di titik balik di mana ketergantungan pada fosil mulai menurun secara signifikan:
​Batu Bara: Masih menjadi penyokong utama (baseload) dengan porsi sekitar 60%, namun penggunaannya mulai dipangkas untuk pembangkitan listrik dan digantikan oleh gas atau nuklir.
​Energi Terbarukan: Menembus angka 50% dari total kapasitas terpasang. China diperkirakan menambah lebih dari 300 GW tenaga surya dan 100 GW tenaga angin setiap tahunnya.
​Nuklir: China mempercepat pembangunan reaktor nuklir untuk menyediakan energi 24/7 bagi pusat-pusat industri teknologi tinggi mereka.

​Strategi Ketahanan Energi China

Diversifikasi Impor=> Menambah pasokan gas dari Rusia melalui pipa dan mengamankan kontrak LNG jangka panjang (seperti dengan Petronas & Qatar).
Kemandirian Domestik => Mengurangi ketergantungan pada minyak impor dengan mempercepat transisi ke kendaraan listrik yang ditenagai listrik domestik.
Hilirisasi Global => Berinvestasi besar-besaran di negara pemilik mineral (seperti nikel di Indonesia) untuk memastikan rantai pasok baterai tetap di bawah kendali mereka.

China dan Kebutuhan energi khusus untuk Data Center

Di tahun 2026, China menghadapi tantangan besar yaitu kebutuhan energi untuk Data Center melonjak drastis seiring dengan ledakan adopsi AI, komputasi awan, dan digitalisasi ekonomi. Pemerintah China menyadari bahwa membakar batu bara secara terus-menerus bukan hanya buruk bagi lingkungan, tetapi juga tidak berkelanjutan secara ekonomi.
​Berikut langkah-langkah strategis yang diambil China untuk memenuhi kebutuhan energi Data Center mereka:
​1. Strategi “East Data, West Computing” (Dongshu Xisuan)
​Ini adalah mega-proyek paling krusial. China memindahkan beban komputasi dari wilayah pesisir yang padat (seperti Beijing, Shanghai, Shenzhen) ke wilayah barat yang kaya energi.
​Mekanisme: Membangun 8 hub komputasi nasional di wilayah seperti Guizhou, Inner Mongolia, dan Ningxia.
​Keuntungan: Wilayah barat memiliki suhu udara yang lebih dingin (mengurangi biaya pendinginan) dan pasokan energi terbarukan (angin dan surya) yang melimpah namun jarang terpakai. Data center di sini menggunakan energi bersih langsung dari sumbernya.
​2. Integrasi Energi Terbarukan Skala Besar
​Data center di China kini didorong untuk tidak lagi bergantung pada jaringan listrik nasional biasa (grid), melainkan memiliki sumber energi sendiri.
​Ladang Tenaga Surya & Angin: China membangun kompleks panel surya dan kincir angin raksasa di Gurun Gobi khusus untuk memasok listrik ke klaster data center di sekitarnya.
​Penyimpanan Energi (Battery Storage): Karena energi matahari dan angin tidak stabil, China mengintegrasikan sistem penyimpanan energi skala besar menggunakan teknologi baterai LFP dan Sodium-ion (di mana China adalah pemimpin dunianya).
​3. Inovasi Teknologi Pendinginan (Cooling Technology)
​Data center mengonsumsi sekitar 40% energinya hanya untuk pendinginan. China melakukan efisiensi radikal:
​Liquid Cooling (Pendinginan Cair): Perusahaan seperti Alibaba dan Huawei telah menerapkan teknologi pendinginan rendam (immersion cooling) di mana server direndam dalam cairan non-konduktif khusus yang menyerap panas lebih efektif daripada kipas angin.
​Underwater Data Centers: China (melalui perusahaan seperti Highlander) mulai mengoperasikan data center di bawah laut (di lepas pantai Hainan). Air laut yang dingin berfungsi sebagai pendingin alami yang gratis dan hemat energi.
​4. Pengembangan PLTN (Energi Nuklir) Generasi Terbaru
​China sangat agresif membangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) untuk memberikan beban dasar (baseload) yang stabil bagi pusat data yang membutuhkan listrik 24/7 tanpa henti.
​Small Modular Reactors (SMR): China mengembangkan reaktor nuklir kecil yang bisa ditempatkan lebih dekat dengan kawasan industri atau hub data center, sehingga mengurangi kehilangan energi selama transmisi kabel jarak jauh.
​5. Sertifikasi “Green Data Center” & Standar PUE
​Pemerintah menetapkan aturan ketat mengenai Power Usage Effectiveness (PUE). ​Di tahun 2026, data center baru di wilayah utama wajib memiliki skor PUE di bawah 1.2 (semakin mendekati 1.0, semakin efisien). Data center yang boros energi akan dikenakan pajak tinggi atau dicabut izin operasionalnya.

Jika ingin mendapatkan artikel karya Saham Daily edisi BULETIN dan CIRCULAR, untuk berlangganan BULETIN dan CIRCULAR Saham Daily, dengan cara berlangganan klik link di bawah ini atau Whatsapp ke 085737186163

Langganan Saham Daily Services: Buletin, Circular, Database & Info Saham Terkini

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *