S&P Global Ratings baru saja mengeluarkan sinyal waspada terhadap kondisi fiskal Indonesia. Meskipun peringkat utang masih dipertahankan di level layak investasi (BBB) dengan prospek stabil, lembaga ini menyoroti peningkatan tekanan fiskal yang berisiko menekan profil kredit Indonesia dalam jangka menengah. Peringatan ini muncul karena beberapa indikator fiskal mulai menunjukkan tren yang mengkhawatirkan.
Berikut poin-poin utama yang menjadi perhatian S&P:
Beban Bunga Membengkak: S&P memperkirakan rasio pembayaran bunga utang terhadap pendapatan negara sangat mungkin telah melampaui ambang batas 15% pada tahun lalu. Jika angka ini bertahan, hal itu dapat memicu penurunan peringkat.
Defisit Membengkak: Defisit APBN tahun lalu tercatat 2,9% dari PDB, lebih tinggi dari target. Kondisi ini disebabkan oleh pendapatan negara yang lemah dan S&P melihatnya sebagai risiko yang meningkat cepat.
Dua Indikator Kunci: S&P akan terus memantau dua hal:
1. Apakah utang pemerintah akan meningkat lebih dari 3% dari PDB setiap tahunnya?
2. Apakah beban bunga utang akan secara konsisten di atas 15% dari pendapatan negara?
Dampak Lanjutan: Pelemahan pendapatan yang berkelanjutan dapat menggerus bantalan fiskal. Selain itu, hilangnya kepercayaan investor asing dapat memicu arus modal keluar, menekan rupiah, dan meningkatkan biaya pembiayaan negara.
Indikator Rasio Pembayaran Bunga terhadap Pendapatan yang menjadi sorotan utama S&P Global Ratings
Indikator ini adalah kunci untuk memahami kekhawatiran mereka terhadap kondisi fiskal Indonesia saat ini Secara sederhana, rasio ini mengukur berapa besar porsi pendapatan negara (terutama dari pajak) yang harus dialokasikan hanya untuk membayar bunga utang, belum termasuk pokok utangnya. Ini adalah barometer penting untuk mengukur “ruang gerak” fiskal sebuah negara.
Berikut komponen utamanya:
Ambang Batas Kritis (15%): S&P menggunakan angka 15% sebagai batas psikologis dan fundamental. Selama bertahun-tahun, Indonesia konsisten menjaga rasio ini di bawah 15%, yang menjadi salah satu pilar kekuatan peringkat kredit Indonesia. Jika rasio ini melampaui batas dan bertahan lama, ini sinyal bahwa APBN mulai “tersandera” oleh utang.
Kondisi Terkini (Telah Tembus Batas): Analis SGP, Rain Yin, menyatakan bahwa pada tahun lalu, rasio ini “sangat mungkin” telah melampaui 15%. Ini adalah perkembangan signifikan karena pertama kalinya dalam sejarah panjang Indonesia diperkirakan menembus ambang batas tersebut pasca-pandemi.
Perbedaan dengan Debt Service Ratio (DSR): Jangan sampai tertukar dengan DSR. DSR itu lebih luas, mencakup cicilan pokok + bunga. S&P memang fokus ke rasio bunga saja karena ini menunjukkan beban riil tahunan yang tidak bisa ditunda. Sebagai gambaran, jika rasio bunga saja sudah tembus 15%, maka DSR diproyeksikan bisa mencapai angka fantastis, seperti perkiraan 46% pada 2026.
Akar Masalah (Pendapatan vs Defisit): Mengapa rasio ini membengkak? Penyebab utamanya adalah pendapatan negara yang lemah . Tahun lalu, defisit APBN tercatat 2,9% (lebih tinggi dari target) karena penerimaan negara tidak sesuai harapan. Akibatnya, pemerintah harus menerbitkan utang baru, yang otomatis menambah beban bunga di tahun-tahun berikutnya.
Jika terlalu banyak pendapatan habis untuk bunga, maka anggaran untuk pembangunan (infrastruktur, pendidikan, bansos) akan tergerus. Lebih jauh, jika investor asing melihat beban ini terus meningkat, mereka bisa kehilangan kepercayaan, menarik modalnya, dan pada akhirnya menekan nilai tukar Rupiah serta meningkatkan biaya pinjaman negara.
Jadi, saat S&P “wanti-wanti” soal rasio ini, mereka sedang menghitung seberapa besar fleksibilitas keuangan pemerintah dalam menghadapi guncangan ekonomi ke depan.
Sebelumnya Moody’s Rating telah lebih dulu mengubah prospek Indonesia dari Stabil menjadi Negatif. Pemerintah sendiri telah merespons dengan berkomitmen menjaga defisit di bawah 3% dan mempercepat belanja negara untuk menjaga kepercayaan.
Singkatnya, S&P masih mempertahankan sikap wait and see dengan prospek stabil, sementara Moody’s sudah lebih dulu menurunkan prospek menjadi negatif karena khawatir akan tata kelola.
Berikut perbandingan pandangan S&P Global Ratings dengan Moody’s Rating:
Aspek
Peringkat & Prospek:
S&P Global Ratings=> BBB / Stabil
Moody’s Ratings=> Baa2 / Negatif
Fokus Kekhawatiran Utama:
S&P Global Ratings=> Pelemahan kuantitatif fiskal (defisit >3% PDB, beban bunga >15% pendapatan)
Moody’s Ratings=> Pelemahan kualitatif (prediktabilitas kebijakan, tata kelola, komunikasi pemerintah) dan Danantara
Sikap terhadap Pemerintah:
S&P Global Ratings=> “Peringatan keras” dengan ancaman penurunan jika indikator memburuk.
Moody’s Ratings=> Penurunan prospek karena khawatir erosi kredibilitas kebijakan
Ambang Batas Fiskal:
S&P Global Ratings=> Defisit APBN >3% PDB & Rasio bunga terhadap pendapatan >15% (sangat mungkin sudah terlampaui).
Moody’s Ratings=> Lebih umum ke efektivitas kebijakan dan risiko fiskal dari belanja besar dengan pendapatan sempit.
Kesimpulan: Dua Pelemahan Fiskal yang Berbeda
Sederhananya, kedua lembaga sepakat ada tekanan fiskal, tapi titik tekannya berbeda:
S&P bertindak sebagai Akuntan yang Waspada: Mereka masih memberi nilai stabil, tapi memasang dua alarm keras (defisit dan rasio bunga). Jika angka-angka ini terus memburuk, nilai akan dipotong.
Moody’s bertindak sebagai Analis Risiko yang Khawatir: Mereka langsung memotong prospek karena menilai akar masalahnya ada pada kualitas pengambilan keputusan. Ketidakpastian kebijakan dinilai sudah menggerogoti kepercayaan investor yang selama ini menjadi modal utama Indonesia.
Dengan kata lain, Moody’s melihat risiko jangka panjang dari cara mengelola, sedangkan S&P masih menghitung berapa besar dampak angka-angkanya terhadap kemampuan bayar. Dari sisi pemerintah, Menteri Airlangga merespons dengan akan mengomunikasikan kerangka fiskal ke Moody’s untuk mengklarifikasi kekhawatiran tersebut.
Disclaimer On: Tulisan ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham tertentu. Keputusan Investasi/Trading sepenuhnya ada di tangan pembaca. Saham Daily tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari Keputusan Investasi/Trading yang dilakukan oleh Pembaca.
Jika ingin berlangganan artikel karya Saham Daily edisi BULETIN dan CIRCULAR, klik link di bawah ini atau Whatsapp ke 085737186163
Langganan Saham Daily Services: Buletin, Circular, Database & Info Saham Terkini