Seruan “sell Indonesia” yang disuarakan George Boubouras dari K2 Asset Management

Seruan “sell Indonesia” yang disuarakan George Boubouras dari K2 Asset Management adalah sebuah alarm yang mengungkapkan krisis kepercayaan investor global terhadap Indonesia. Ini bukan sekadar komentar biasa, melainkan sinyal dari pasar yang menunjukkan bahwa Indonesia dianggap semakin berisiko. George Boubouras adalah seorang veteran investasi yang telah puluhan tahun berkecimpung di Indonesia. Sebagai Kepala Riset K2 Asset Management yang mengelola dana hingga USD 4,3 miliar, pernyataannya memiliki bobot dan dapat memicu aksi serupa di kalangan investor lain. Seruan ini muncul pada pekan pertama Juni 2026 di tengah tekanan berat yang dialami pasar keuangan Indonesia.

Alasan Kunci di Balik Seruan ‘Sell Indonesia’

Terdapat sejumlah faktor pemicu yang membuat Boubouras mengambil sikap sekeras itu:

Kebijakan Populis & Intervensionis: Investor khawatir dengan arah kebijakan Presiden Prabowo yang dianggap terlalu populistis dan meningkatkan intervensi negara dalam ekonomi, seperti target pertumbuhan 8%, Makan Bergizi Gratis, penguatan Danantara, hingga pengendalian ekspor komoditas.
Kehilangan Juru Kunci Fiskal (Sri Mulyani): Kepergian Sri Mulyani dianggap investor sebagai turning point. Kepergiannya menghilangkan jaminan “penjaga disiplin fiskal” yang kredibel, sehingga komitmen terhadap konservatisme fiskal mulai diragukan.
Anjloknya IHSG dan Rupiah: Hanya dalam lima bulan, IHSG merosot hingga 36-37%, terburuk di dunia, dan Rupiah melemah lebih dari 7%. Penurunan Rupiah bahkan mencapai 14% sejak Prabowo menjabat, disertai penarikan miliaran dolar asing dari pasar obligasi.
Sentimen Penutup dari Boubouras: Menurut George, Indonesia sangat membutuhkan “mitra” (pemegang obligasi) untuk membiayai kebijakannya. Selama kebutuhan itu belum terpenuhi, strategi ‘jual Indonesia’ akan terus ia pertahankan.

Dampak ‘Sell Indonesia’ terhadap Perekonomian

Seruan tersebut telah menyebabkan tekanan yang semakin parah:

Kinerja Pasar Memburuk: Indonesia menjadi pasar terburuk di dunia, dengan Rupiah menjadi mata uang terlemah di Asia, bahkan sempat tembus Rp 18.000 per dolar AS.
Investor Asing Kabur: Sejak Agustus 2025, investor asing telah menjual obligasi pemerintah senilai Rp 86 triliun (USD 4,8 miliar), sekitar 9% dari total kepemilikan mereka.
Ancaman Status Investasi & Intervensi BI: Ada kekhawatiran penurunan peringkat kredit Indonesia. Sementara itu, Bank Indonesia dipaksa terus mengintervensi untuk menstabilkan pasar.

Tanggapan Pemerintah Indonesia

Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa langsung merespon dengan menyebut penulis artikel Bloomberg yang memberitakan seruan itu tidak memahami kondisi ekonomi Indonesia. Ia mengatakan pemerintah mempercepat rilis data APBN untuk memberikan gambaran yang lebih jelas, menekankan bahwa fundamental ekonomi dan fiskal Indonesia tetap bagus.

Jika ingin berlangganan artikel karya Saham Daily edisi BULETIN dan CIRCULAR, klik link di bawah ini atau Whatsapp ke 085737186163

Langganan Saham Daily Services: Buletin, Circular, Database & Info Saham Terkini

 

 

 

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *