Harga minyak mentah melonjak 5% menjadi di atas $91 per barel pada hari Kamis 23 Jul 2026, memperpanjang kenaikan untuk sesi kelima berturut-turut ke level tertinggi sejak 8 Juni 2026, karena meningkatnya ketegangan geopolitik memperparah kekhawatiran atas pasokan global. Militan Houthi yang didukung Iran mengklaim bertanggung jawab atas serangan terhadap dua kapal tanker minyak Saudi di Laut Merah, mengatakan serangan itu bertujuan untuk menegakkan blokade pelabuhan Saudi yang baru diumumkan.

Serangan tersebut meningkatkan kekhawatiran akan gangguan lebih lanjut terhadap pengiriman regional, dengan pembeli di Asia mempertimbangkan rute alternatif yang lebih panjang dan lebih mahal. Risiko pasokan diperparah oleh serangan berkelanjutan terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz, serangan AS yang diperbarui terhadap Iran, dan keputusan Kazakhstan untuk menghentikan ekspor minyak mentah melalui terminal Caspian Pipeline Consortium setelah serangan pesawat tak berawak. Sementara itu, Washington dan Teheran terus menolak pembicaraan perdamaian jangka pendek, memperkuat ekspektasi bahwa ketegangan dapat membuat harga minyak tetap tinggi.
Dampak kenaikan harga minyak mentah terhadap Indonesia dan IHSG, berdasarkan data terkini per 23 Juli 2026.
I. Dampak terhadap Makroekonomi Indonesia
1. Neraca Perdagangan: Rekor Surplus 72 Bulan Terputus
Sebagai negara pengimpor minyak neto, lonjakan harga minyak langsung menghantam neraca perdagangan. Pada Mei 2026, Indonesia mencatat defisit perdagangan sebesar 1,61 miliar dolar AS, menjadikannya defisit pertama sejak Mei 2020 sekaligus mengakhiri catatan surplus beruntun selama 72 bulan. Defisit migas membengkak hingga 3,76 miliar dolar AS, yang tidak tertutupi oleh surplus non-migas sebesar 2,15 miliar dolar AS. Pelemahan nilai tukar rupiah juga turut memperbesar biaya impor, memperparah tekanan.
2. Tekanan Fiskal: Subsidi Melonjak & APBN Terjepit
Pemerintah menanggung beban berat untuk menjaga harga BBM bersubsidi tetap stabil. Hingga akhir Mei 2026, realisasi subsidi energi (BBM, listrik, dan pupuk) melonjak 208% secara tahunan (YoY) menjadi Rp 203 triliun (sekitar 11,3 miliar dolar AS). Setiap kenaikan harga minyak dunia sebesar 1 dolar AS per barel menambah beban subsidi negara sekitar 400 juta dolar AS per tahun. APBN 2026 disusun dengan asumsi harga minyak di angka 70 dolar AS per barel, sementara harga aktual sudah jauh di atas level tersebut. Akibatnya, ruang fiskal untuk stimulus menjadi sangat sempit. Sebagai langkah darurat, pemerintah mengumumkan kenaikan harga Pertamax sebesar 32%, yang merupakan penyesuaian harga BBM pertama sejak lonjakan kali ini.
3. Inflasi dan Kebijakan Moneter
Kenaikan BBM non-subsidi mendorong kenaikan biaya distribusi logistik, yang merambat pada harga pangan dan barang lainnya. Pada Juni 2026, tingkat inflasi konsumen (CPI) tercatat 3,34% secara tahunan, sudah mendekati batas atas target pemerintah. Untuk menahan arus modal keluar dan menstabilkan rupiah, Bank Indonesia mengambil langkah non-rutin dengan menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 100 basis poin, sekaligus mengakhiri siklus pelonggaran moneter sebelumnya.
II. Dampak terhadap IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan)
Pergerakan IHSG merespons kenaikan minyak secara dua sisi dan bertahap:
1. Sesi Awal: Penguatan Sektor Energi
Pada perdagangan 23 Juli 2026, IHSG sempat melonjak 1,51% ke level 6.430 pada sesi tengah hari, didorong oleh sektor komoditas dan energi. Sektor Energi (IDXEnergy) menguat 4,32% dan sektor Bahan Baku (IDXBasic) naik 2,71%, menjadi motor utama penguatan indeks pada sesi awal.
2. Sesi Akhir: Aksi Ambil Untung & Risk-Off
Namun, IHSG ditutup melemah 0,30% ke level 6.315 pada akhir sesi. Setelah reli awal, investor berbalik sikap menjadi waspada. Harga WTI yang menembus 89 dolar AS per barel dan Brent di atas 97 dolar AS memicu kekhawatiran akan risiko inflasi global dan perlambatan ekonomi, sehingga investor cenderung mengurangi eksposur aset berisiko dan beralih ke strategi jangka pendek.
3. Kinerja Semester I 2026: Tekanan Berat
Secara keseluruhan, IHSG mengalami tekanan luar biasa sepanjang paruh pertama 2026. IHSG terkoreksi 35,49% dari 8.748 pada awal tahun menjadi 5.643, dengan kapitalisasi pasar menguap hingga Rp 6.117 triliun. Investor asing mencatatkan jual bersih (net sell) sebesar Rp 73,61 triliun selama periode tersebut. Lonjakan minyak menjadi salah satu pemicu utama, mengingat sensitivitas Indonesia terhadap risiko fiskal akibat impor energi.
4. Rotasi Sektor yang Tajam
· Sektor Diuntungkan: Energi, komoditas tambang, dan emas (karena harga emas ikut terdorong ke level 4.130 dolar AS/ons sebagai aset lindung nilai).
· Sektor Tertekan: Keuangan (perbankan), barang konsumsi non-primer, dan industri manufaktur, yang terdampak oleh kenaikan biaya produksi, inflasi, dan ekspektasi suku bunga tinggi.
Kesimpulan
Harga minyak yang terus bertahan di atas 90 dolar AS per barel menimbulkan risiko sistemik bagi perekonomian Indonesia. Neraca dagang memburuk, subsidi menguras APBN, inflasi naik, dan rupiah melemah—memaksa kebijakan ekonomi beralih dari fokus pertumbuhan ke stabilitas. Untuk IHSG, meskipun lonjakan minyak memberikan keuntungan jangka pendek bagi saham energi, dalam jangka menengah-panjang hal ini menekan valuasi pasar secara keseluruhan karena meningkatnya risiko fiskal, derasnya arus keluar modal asing, dan kebijakan moneter yang semakin ketat. Jika harga minyak tetap tinggi, IHSG masih berpotensi menghadapi tekanan koreksi tambahan.
Mau berlangganan Buletin, Circular, Database Saham Daily, dan mendapatkan Info Saham Terkini, serta gabung ke Sahamdaily Circle, klik link di bawah ini:
Langganan Saham Daily Services: Buletin, Circular, Database & Info Saham Terkini