Deindustrialisasi di Indonesia

Deindustrialisasi di Indonesia adalah fenomena menurunnya peran sektor manufaktur dalam perekonomian, yang terjadi sebelum waktunya (premature deindustrialization) artinya, kontribusi industri terhadap PDB mulai merosot padahal pendapatan per kapita Indonesia masih rendah dan belum mencapai tahap industrialisasi matang seperti negara maju. Kondisi ini dinilai serius karena sektor manufaktur seharusnya menjadi “mesin pertumbuhan” yang menyerap banyak tenaga kerja dan mendorong inovasi, terutama untuk negara dengan bonus demografi seperti Indonesia.

Penurunan Kontribusi PDB:
Pada era 1980-an hingga awal 1990-an, kontribusi manufaktur mencapai puncaknya di kisaran 32% dari PDB. Kini, angkanya hanya berkisar 18%-19%. Angka ini lebih rendah dibandingkan negara tetangga seperti Vietnam (sekitar 25%), Malaysia (22%), dan China (27%-29%). Pemerintah dalam RPJPN 2025-2045 menargetkan kontribusi manufaktur kembali ke 28% pada 2045. Jarak yang sangat lebar dari posisi saat ini.

Pemicu utama deindustrialisasi dini adalah Krisis Moneter 1998. Sebelum krisis, manufaktur melesat. Setelah krisis, terjadi deindustrialisasi paksa yang tidak pernah pulih total. Tenaga kerja yang tadinya di pabrik, terdorong ke sektor jasa informal (seperti ojek online atau dagang kelontong) yang tidak memberikan kepastian hidup dan kesempatan meningkatkan keterampilan.

Pada tahun 2025, Data PMI Manufaktur Indonesia sempat terkontraksi (di bawah 50) pada April 2025 karena lemahnya permintaan global dan ekspor. Pada Maret 2026, PMI nyaris menyentuh garis kontraksi di level 50,1. Melemahnya permintaan baru, kenaikan biaya energi, dan gangguan rantai pasok global menjadi biang kerok. Otomatisasi dan AI membuat pabrik-pabrik kini cenderung padat modal, bukan padat karya. Data LPEM FEB UI menunjukkan elastisitas tenaga kerja formal menurun drastis (setiap 1% pertumbuhan output hanya menyerap 0.58% tenaga kerja, turun dari 1.77%). Meski output pabrik naik, lapangan kerja tidak bertambah banyak.

World Bank mencatat 25-29% bisnis di Indonesia masih membayar suap untuk izin operasi, menghambat masuknya pemain inovatif baru. Perusahaan besar yang sudah mapan (apalagi BUMN atau yang punya koneksi politik) seringkali “too big to fail” dan tidak punya dorongan untuk berinovasi karena merasa dilindungi pemerintah. Menteri Perindustrian sempat membantah terjadi deindustrialisasi dengan argumen bahwa Nilai Tambah Bruto (NTB) manufaktur Indonesia pada 2023 mencapai USD 255,96 miliar, menempatkan RI sebagai negara dengan industri terbesar ke-12 di dunia (mengalahkan Vietnam).

Indonesia sedang mengalami Hilirisasi Sumber Daya Alam (SDA). Karena kebijakan larangan ekspor bijih nikel mentah, investasi besar-besaran masuk ke dalam negeri untuk membangun smelter. Akibatnya, ekspor kita bergeser dari bahan mentah ke besi/baja olahan. Indonesia bahkan kini menjadi eksportir stainless steel raksasa dunia. Industri smelter ini cenderung padat modal. Dia menyumbang nilai PDB yang besar, tetapi tidak menyerap banyak pekerja seperti dulu industri tekstil atau sepatu.

Kesimpulan Sederhananya: PDB manufaktur secara nilai uang mungkin masih besar, tapi kemampuannya untuk menciptakan lapangan kerja bagi rakyat (terutama kelas menengah) sedang sekarat.

INDEF mencatat pertumbuhan ekonomi pasca-pandemi sekitar 5% terasa “palsu” karena upah riil pekerja nyaris tidak naik (hanya sekitar 2%). Sangat sedikit pekerjaan baru yang diciptakan saat ini mampu mengangkat orang ke kelas menengah. Sebagian besar terperangkap di sektor jasa informal dengan upah minim.

Jika tidak segera diatasi dengan peningkatan keterampilan (reskilling) dan reformasi regulasi, Indonesia berisiko keras terperangkap dalam Middle Income Trap (jebakan pendapatan menengah), yaitu situasi di mana negara tidak bisa maju ke status negara maju karena industrinya mandek.

Disclaimer On: Tulisan ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham tertentu. Keputusan Investasi/Trading sepenuhnya ada di tangan pembaca. Saham Daily tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari Keputusan Investasi/Trading yang dilakukan oleh Pembaca.

Jika ingin berlangganan artikel karya Saham Daily edisi BULETIN dan CIRCULAR, klik link di bawah ini atau Whatsapp ke 085737186163

Langganan Saham Daily Services: Buletin, Circular, Database & Info Saham Terkini

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *