Dalam forum Dua Sesi (NPC-National People’s Congress & CPPCC-Chinese People’s Political Consultative Conference) yang baru saja tutup buku, China mengumumkan target pertumbuhan ekonomi tahun 2026 sebesar 4,5%—5%. Ini adalah pertama kalinya dalam 7 tahun terakhir China menggunakan target berbentuk rentang (interval), yang ditafsirkan sebagai langkah penyesuaian kebijakan yang pragmatis, ilmiah, dan berorientasi jangka panjang. Ini adalah proyeksi terendah sejak 1991 dan mencerminkan tekanan domestik yang masih berat seperti lemahnya konsumsi, krisis properti dan tingginya utang pemerintah daerah.
Penetapan target ini didasari oleh beberapa pertimbangan utama:
Menyelaraskan dengan Tujuan Jangka Panjang: Untuk mewujudkan visi tahun 2035 mencapai status negara maju berpendapatan sedang, diperkirakan China membutuhkan pertumbuhan tahunan rata-rata sekitar 4,7% dari tahun 2020 hingga 2035. Menetapkan batas bawah di atas 4,5% bertujuan memberikan ruang bagi Rencana Lima Tahun ke-15 (2026-2030) dan memastikan visi jangka panjang tersebut tercapai.
Menghadapi Ketidakpastian Eksternal: Di tengah lingkungan internasional yang kompleks dan penuh tantangan, target berupa interval memberikan ruang gerak yang lebih fleksibel bagi pemerintah untuk merespons berbagai risiko dan guncangan yang tidak terduga.
Fokus pada Pembangunan Berkualitas: Dengan secara aktif menurunkan sedikit ekspektasi pertumbuhan, pemerintah ingin mengalihkan fokus daerah dari sekadar mengejar angka pertumbuhan, menuju prioritas pembangunan yang lebih berkualitas seperti inovasi teknologi dan transformasi hijau.
Strategi Pendukung di Balik Target
Untuk mencapai target tersebut sambil mendorong transformasi ekonomi, pemerintah juga mengumumkan beberapa langkah pendukung kunci:
Makna di Balik Target Interval: Target 4,5%-5% ini dimaknai sebagai “berusaha meraih setinggi mungkin sambil tetap menjaga kestabilan”. Angka 4,5% menjadi batas bawah yang aman, sementara upaya tetap diarahkan untuk mencapai hasil yang lebih baik hingga 5%. Lembaga keuangan internasional memandang ini sebagai langkah bijak yang memberi fleksibilitas bagi para pengambil kebijakan di tengah ketidakpastian global.
Dukungan Kebijakan Makro yang Solid: Meski target pertumbuhan sedikit melunak, dukungan kebijakan tetap kuat:
Kebijakan Fiskal: Defisit anggaran direncanakan sebesar 4% dari PDB, sama seperti tahun lalu. Pemerintah juga akan menerbitkan obligasi negara khusus jangka sangat panjang senilai 1,3 triliun yuan dan obligasi daerah senilai 4,4 triliun yuan untuk membiayai proyek-proyek strategis.
Kebijakan Moneter: Posisi “cukup longgar” akan dipertahankan, dengan ruang untuk menurunkan suku bunga dan Giro Wajib Minimum (GWM) kapan saja jika diperlukan. Dana kebijakan baru senilai 800 miliar yuan juga disiapkan untuk mendukung investasi dan konsumsi.
Prioritas pada Permintaan Domestik: Membangun pasar domestik yang kuat menjadi tugas utama pemerintah tahun ini. Langkahnya meliputi:
a. Menyediakan dana 250 miliar yuan untuk mendukung program tukar tambah barang konsumsi (mobil, peralatan rumah tangga, dll.)
b. Membentuk dana koordinasi fiskal-keuangan senilai 100 miliar yuan untuk mensubsidi bunga kredit konsumsi dan kompensasi risiko.
Laporan kerja pemerintah mendorong sekolah untuk mengatur libur musim semi dan musim gugur serta memastikan pelaksanaan cuti tahunan karyawan, tujuannya agar masyarakat punya “uang untuk dibelanjakan dan waktu untuk berbelanja” , sehingga dapat mengaktifkan konsumsi jasa.
Inovasi sebagai Motor Utama: Mempercepat pengembangan “Produktivitas Baru (New Quality Productive Forces)” menjadi kata kunci utama. Pemerintah menekankan kemandirian teknologi tinggi, terutama di bidang-bidang seperti kecerdasan buatan (AI) dan semikonduktor, yang menjadi fokus utama kebijakan saat ini.
Singkatnya, penetapan target pertumbuhan 4,5%-5% untuk tahun 2026 merupakan keputusan yang proaktif dan pragmatis setelah menganalisis situasi domestik dan internasional secara mendalam. Ini menandai pergeseran fokus China menuju kualitas dan keberlanjutan pembangunan ekonomi, dengan memberikan ruang bagi reformasi struktural dan memusatkan sumber daya untuk mendorong inovasi serta konsumsi domestik, guna membangun fondasi yang lebih kokoh bagi kemakmuran jangka panjang.
Dampak bagi Indonesia
Sebagai mitra dagang terbesar Indonesia (dengan pangsa ekspor sekitar 24%-25%), perubahan target pertumbuhan China ke 4,5%-5% di tahun 2026 membawa dampak signifikan ke ekonomi RI . Efeknya terasa melalui beberapa jalur utama:
Tekanan pada Ekspor dan Harga Komoditas: Perlambatan China berpotensi menahan laju ekspor Indonesia. Ekonom senior Chatib Basri pernah menghitung bahwa setiap perlambatan 1% ekonomi China dapat memangkas pertumbuhan RI sekitar 0,3% . Sektor barang baku (nikel, besi/baja, bahan bakar mineral) dan energi akan paling merasakan dampaknya karena permintaan industri China melemah.
Potensi Perlambatan Arus Investasi: China adalah salah satu investor asing terbesar di Indonesia, dengan realisasi investasi mencapai US$ 7,5 miliar di tahun 2025 . Perlambatan di dalam negeri bisa membuat perusahaan China lebih berhati-hati dalam berekspansi, berpotensi menahan realisasi proyek baru di sektor hilirisasi, manufaktur, dan energi.
Peluang di Sektor Tertentu: Di sisi lain, transformasi China menuju ekonomi hijau membuka peluang. Fokus Beijing pada energi terbarukan (target 30% listrik dari EBT pada 2030) dapat meningkatkan permintaan nikel Indonesia serta membuka peluang bagi emiten di sektor energi bersih dan utilitas.
Penurunan target pertumbuhan China adalah sinyal adanya risiko nyata bagi perekonomian Indonesia. Pemerintah pun didorong menyiapkan rencana antisipasi jika ekspor terganggu. Namun, dampaknya tidak selalu linier dan sangat tergantung pada kekuatan fundamental domestik, terutama konsumsi rumah tangga.
Disclaimer On: Tulisan ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham tertentu. Keputusan Investasi/Trading sepenuhnya ada di tangan pembaca. Saham Daily tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari Keputusan Investasi/Trading yang dilakukan oleh Pembaca.
Jika ingin berlangganan artikel karya Saham Daily edisi BULETIN dan CIRCULAR, klik link di bawah ini atau Whatsapp ke 085737186163
Langganan Saham Daily Services: Buletin, Circular, Database & Info Saham Terkini