ADMR

PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR), yang merupakan anak usaha dari PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO), fokus ADMR pada bisnis pertambangan batubara metalurgi, mineral dan pengolahan mineral. ADMR merupakan salah satu produsen batubara metalurgi terbesar di Indonesia dan saat ini sedang mengembangkan smelter aluminium di Kalimantan Utara via anak usahanya yaitu PT Kalimantan Aluminium Industry (KAI).  Proyek ini diharapkan dapat memproduksi sekitar 500.000 ton / tahun aluminium ingot dan akan ditingkatkan lagi hingga mencapai 1,5 juta ton/ tahun di skala penuh. Suplai listrik untuk fase pertama proyek smelter akan disediakan oleh PT Kaltara Power Indonesia (anak usaha dari PT Adaro Power). ADMR bermitra dengan dua perusahaan dalam proyek smelter aluminium ini yaitu Aumay Mining Pte Ltd (Aumay) dan PT Cita Mineral Investindo Tbk (CITA). 

ADMR memiliki lima area konsesi Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batu Bara (PKP2B) dengan sumber daya dan cadangan batubara metalurgi yang besar di Kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah dengan luas total 146.579 hektar dengan estimasi Sumber daya dan cadangan yang besar dari PKP2B ini, masing-masing sebesar 975,6 juta ton dan 173 juta ton. ADMR memproduksi produk-produk batubara kokas (coking coal) yang diperdagangkan dengan merek Enviromet, komponen utama dalam pembuatan baja. Dengan kandungan abu dan fosfor yang sangat rendah, sehingga memproduksi produk baja yang lebih kuat. Kandungan vitrinit batu bara ini merupakan salah satu yang tertinggi di dunia. ADMR meningkatkan target produksi menjadi 6 juta ton per tahun pada tahun 2025. Sebagian besar produksi ADMR merupakan jenis Hard Coking Coal (HCC) dari Tambang Lampunut di bawah anak perusahaanya yaitu PT Maruwai Coal. Pelanggan produk ADMR yaitu dari negara Asia, terutama Jepang (32% dari total penjualan), China (31%), India (18%), Korea Selatan dan tentu saja Indonesia.

ADMR listed di BEI pada 03 Januari 2022 dengan perolehan dana IPO Rp 639 miliar (USD 44,7 juta). Di Oktober 2022, ADRO merampingkan bisnis-bisnisnya ke dalam tiga pilar pertumbuhan : Adaro Energy, Adaro Minerals, Adaro Green. ADMR akan memimpin pilar Adaro Minerals. Pada 11 November 2022, PT Adaro Baterai Indonesia (ABI) didirikan dan kemudian mengambil alih PT Adaro Indo Aluminium. Di tahun 2023, ADMR mengambil bagian pada penerbitan saham-saham baru PT Alam Tri Cakra Indonesia (ATCI) sehingga ADMR memiliki 90,84% saham ATCI. Di Q2 Tahun 2023, KAI mempeoleh pendanaan untuk smelter aluminiumnya yang berkapasitas 500.000 tpa.

 

Kinerja 2023:

Volume produksi kokas di tahun 2023= 5,11 juta ton, naik 52%, 2022=3,37 juta ton, 2021=2,30 juta ton, 2020=1,88 juta ton, 2019=1,09 juta ton

Volume penjualan kokas di tahun 2023=4,46 juta ton, Naik 39%,  2022=3,20 juta ton, 2021=2,30 juta ton, 2020= 1,41 juta ton, 2019= 0,98 juta ton

Pengupasan lapisan penutup (overburden removal di tahun 2023= 18,70 juta ton, 2022=8,31 juta ton, 2021=5,15 juta ton, 2020= 4,21 juta ton, 2019=8,36 juta ton

Nisbah kupas (Strip ratio) di tahun 2023=3,66 juta ton, 2022=2,47 juta ton, 2021=2,24 juta ton, 2020=2,24 juta ton, 2019=7,67 juta ton

Pendapatan di tahun 2023 USD 1.085.961.921 vs USD 908.142.046 di tahun 2022, naik 19,58%.

Laba bersih di tahun 2023 USD 440.843.141 vs USD 335.738.738 di tahun 2022, 31,30%

Di tahun 2023, ADMR menjual 87% batubara ke pasar ekspor dan 13% ke domestik. 

 

Di tahun 2023, pasar baja kasar (crude steel market) mengalami penurunan volume produksi karena tingginya inflasi dan persaingan dari impor baja murah yang mendorong penurunan produksi di pasar-pasar utama seperti Eropa, Jepang dan Vietnam, walaupun volume produksi India meningkat 10% yoy. Sementara China dengan penyeimbangan masalah lingkungan dan stabilitas ekonomi mengakibatkan produksi baja kasar tetap sama yoy. Setelah harga yang tinggi di tahun 2022, harga produk baja flat dan long China anjlok pada tahun 2023, dengan harga baja HRC dan rebar masing-masing turun 14% dan 16%. Batubara metalurgi sebagai bahan baku penting produksi baja, terpengaruh oleh pasar baja yang relatif lemah dan mengalami penurunan harga dari harga tahun 2022 yang tinggi. PLV CFR China turun 24% yoy sedangkan PLV FOB Australia turun 19% yoy.

Harga batubara metalurgi terlihat terdampak oleh kondisi suplai. Impor batubara metalurgi China naik 61% yoy dengan kenaikan supply dari Mongolia dan Australia masing-masing 111% dan 29%, sementara ekspor batubara metalurgi Indonesia ke China juga naik dua kali lipat di tahun 2023. Namun penurunan harga PLV CFR China tertahan oleh rendahnya suplai domestik yang diakibatkan oleh sejumlah kecelakaan tambang yang fatal, yang diikuti dengan pengetatan pengendalian keselamatan di China.

Harga PLV FOB Australia tetap di atas biaya pada tahun 2023 karena keterbatasan suplai yang berkelanjutan di Australia karena tergelincirnya kereta api di Queensland dan hujan lebat paruh pertama, hingga pemeliharaan, mogok kerja, tantangan keselamatan geologis dan badai siklon tropis di paruh kedua. Rel Kereta dan kelangkaan pekerja tetap menjadi masalah yang berkelanjutan di sepanjang tahun, hasilnya ekspor batubara kokas Australia turun sekitar 6% yoy terendah dalam 11 tahun.

Di sisi permintaan, penurunan permintaan dari pasar Jepang, Korea, Taiwan membatasi rentang atas batubara metalurgi. Untuk Jepang dan Eropa, penurunan pertumbuhan ekonomi maupun aktivitas manufaktur berkontribusi terhadap penurunan permintaan. Impor batubara kokas dari Eropa dan Jepang masing-masing turun 6,2 juta ton dan 2,2 juta ton yoy. Namun pertumbuhan permintaan datang dari India dan Indonesia, yang mencatat kenaikan impor batubara metalurgi masing-masing 7% dan 2% yoy.

DRMA beroperasi di:

  1. PT Lahai Coal, di Kalimantan Tengah, produksi Metallurgical Coal (batubara metalurgi), sudah beroperasi,memproduksi batubara semi-soft coking coal (SSCC) dari tambang Haju.
  2. PT Maruwai Coal, di Kalimantan Timur, produksi Metallurgical Coal (batubara metalurgi), sudah beroperasi, memproduksi batubara hard coking coal (HCC) dengan kualitas premium yang memiliki karakteristik kokas yang kuat dengan nilai CSN (crucble swelling number) sebesar 9 (skala 1 sampai 9) sehingga sangat baik untuk meningkatkan kualitas pencampuran pada produksi kokas.
  3. PT Kalteng Coal di Kalimantan Tengah, produksi Metallurgical Coal (batubara metalurgi), pada tahap pengembangan operasi Produksi
  4. PT Juloi Coal, di Kalimantan Tengah, produksi Metallurgical Coal (batubara metalurgi), pada tahap pengembangan operasi Produksi
  5. PT Sumber Barito Coal, di Kalimantan Tengah, produksi Metallurgical Coal (batubara metalurgi), pada tahap pengembangan operasi Produksi
  6. PT Kalimantan Aluminium Industry, di Kalimantan Utara, Olahan Aluminium, dalam proses konstruksi

Di Tahun 2024, ADMR menargetkan volume penjualan sebesar 4,9 juta – 5,4 juta ton.

Prospek Batubara Metalurgi di tahun 2024

Masalah pasokan di aktivitas pertambangan Australia termasuk kekurangan pasokan tenaga kerja dan peningkatan pemeliharaan akan terus membatasi peningkatan pasokan dari Austrlia di tahun 2024. Sebaliknya peningkatan pasokan dari Amerika Serikat dan Indonesia diperkirakan akan terjadi karena ditopang pemulihan masalah transportasi dan ketenagakerjaan, peningkatan peralatan dan penambahan kapasitas. Di sisi permintaan, produksi baja di China, India dan Asia Tenggara diperkirakan akan meningkat di tahun 2024, sementara Eropa dan Jepang mungkin downside risk yang lebih tinggi. Permintaan domestik untuk batubara metalurgi Indonesia diperkirakan akan meningkat karena ekspansi pada pabrik kokas.

Prospek Aluminium di tahun 2024

Pasar aluminium global diperkirakan akan tumbuh dengan CAGR sebesar 6,1% pada tahun 2023 hingga 2030 dan mencapai sekitar USD 255 miliar pada tahun 2030. Pasar aluminium di Indonesia juga diproyeksikan akan tumbuh signifikan karena meluasnya penggunaan aluminium di sektor otomotif, konstruksi, pengemasan, dan penerbangan. Kebutuhan aluminium di Indonesia saat ini diperkirakan sekitar 1 juta ton per tahun, sedangkan kapasitas produksi saat ini hanya 250 ribu ton per tahun. Proyek smelter aluminium KAI diharapkan mampu mengisi gap tersebut.

 

ADMR menyampaikan laporan keuangan kuartal I/2024. Adaro Minerals mencatatkan laba bersih USD 118.13 juta naik 36% dibandingkan Q1 2023 USD 87.1 juta. Pendapatan ADMR di kuartal I/2024 mencapai USD 274,5 juta atau setara Rp 4,46 triliun. Pendapatan ini meningkat 15,23% dari USD 238,2 juta dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Volume produksi naik 27% menjadi 1,56 juta ton.

 

Pemegang saham ADMR as per 31 Maret 2024:

68,547% PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO)

8,833% PT Adaro Mining Technologies

6,459% PT Alam Tri Abadi

1,832% Afiliasi Pengendali

0,003% Chia Ah Hoo

0,000% Wito Krisnahadi

14,326% Masyarakat Non Warkat-Scripless

 

 

Jika Anda ingin bergabung Menjadi VIP Member Sahamdaily, klik link dibawah ini:

Join Membership

Disclaimer On: Tulisan ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham tertentu. Keputusan Investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Sahamdaily tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari Keputusan Investasi Pembaca

No HP Admin Sahamdaily : 085737186163. Website : www.sahamdaily.com

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *