Twin Deficits

Defisit kembar (twin deficits) adalah kondisi di mana suatu negara mengalami defisit fiskal (anggaran pemerintah) dan defisit transaksi berjalan (current account) secara bersamaan.

1. Defisit Fiskal

Terjadi ketika belanja pemerintah > pendapatan pemerintah (terutama dari pajak). Untuk menutup selisihnya, pemerintah meminjam uang, baik dari dalam negeri maupun luar negeri.

2. Defisit Transaksi Berjalan

Bagian dari neraca pembayaran yang mencatat ekspor & impor barang/jasa, pendapatan dari investasi, dan transfer. Defisit terjadi saat impor > ekspor. Artinya, negara membeli lebih banyak dari luar negeri daripada yang dijual, sehingga butuh “pembiayaan” dari modal asing.

 

Hubungan Keduanya (Mekanisme Utama)

Teori ekonomi klasik menjelaskan hubungannya lewat identitas pendapatan nasional:

(S – I) + (T – G) = X – M

Di mana:

· X – M = Neraca transaksi berjalan
· T – G = Neraca fiskal (T=pajak, G=belanja)
· S – I = Tabungan bersih swasta

Jika pemerintah defisit (G > T atau T – G negatif), maka sisi kanan (X-M) juga cenderung negatif (defisit transaksi berjalan), kecuali tabungan swasta (S-I) sangat besar dan positif.

Mekanisme rantainya:

1. Defisit fiskal → Pemerintah pinjam dari luar negeri (karena tabungan dalam negeri terbatas).
2. Pinjaman luar negeri → Meningkatkan suplai uang & permintaan barang, termasuk barang impor.
3. Suku bunga naik (karena permintaan dana tinggi) → Mata uang domestik menguat (apresiasi).
4. Mata uang menguat → Ekspor lebih mahal (terhambat), impor lebih murah (meningkat).
5. Hasil: Defisit transaksi berjalan melebar. Defisit fiskal “menular” jadi defisit transaksi berjalan.

Contoh Kasus

· AS era 1980-an: Defisit fiskal besar di bawah Reagan diikuti defisit transaksi berjalan.
· Indonesia (pra-1997): Defisit fiskal relatif kecil, tapi defisit transaksi berjalan besar. Tidak selalu “kembar” sempurna.
· India (2012-2013): Mengalami kedua defisit sekaligus.

Kontroversi & Pengecualian

Hubungan ini tidak selalu otomatis dan tergantung konteks:

1. Ricardian equivalence: Masyarakat sadar defisit fiskal berarti pajak naik di masa depan, sehingga mereka menabung lebih banyak. Ini bisa menekan defisit transaksi berjalan.
2. Kondisi global: Di masa resesi, defisit fiskal memburuk (otomatis karena pajak turun), tapi impor juga turun karena daya beli lesu → defisit transaksi berjalan bisa membaik (bukan memburuk).
3. Nilai tukar: Jika bank sentral tidak membiarkan mata uang menguat (misal: intervensi), maka efek apresiasi bisa terhambat.

Defisit kembar adalah gejala makroekonomi di mana pengeluaran pemerintah yang berlebihan (defisit fiskal) “bocor” ke impor dan dibiayai oleh utang luar negeri, yang pada akhirnya menyebabkan defisit transaksi berjalan. Tidak selalu terjadi, tetapi menjadi sinyal ketergantungan pada modal asing dan risiko terhadap stabilitas eksternal, terutama jika cadangan devisa rendah.

Contoh sederhana untuk memahami defisit kembar:

Bayangkan ada Negara X dengan kondisi awal:

· Penerimaan pajak = 100
· Belanja pemerintah = 130
→ Defisit fiskal = 30

Pemerintah butuh tambahan 30. Karena tabungan dalam negeri hanya 10, sisanya 20 dipinjam dari luar negeri (misalnya dengan menerbitkan obligasi yang dibeli investor asing).

Dampak ke transaksi berjalan:

· Aliran modal masuk 20 → permintaan mata uang Negara X naik → mata uang menguat 10%.
Akibatnya:
· Ekspor turun 15 (karena lebih mahal bagi luar negeri)
· Impor naik 15 (karena lebih murah bagi warga negara)
· Perubahan neto: ekspor turun 15 + impor naik 15 = penurunan transaksi berjalan sebesar 30.

Hasil akhir:

· Defisit fiskal = 30
· Defisit transaksi berjalan = 30
→ Terjadi defisit kembar.

Contoh lebih sederhana:

Seorang bapak (pemerintah) punya gaji 10 juta (pajak), tapi belanjanya 13 juta (defisit 3 juta). Karena tabungan istri (swasta) cuma 1 juta, ia pinjam 2 juta ke tetangga (luar negeri). Uang pinjaman itu membuat keluarga terlihat “kaya”. Mereka jadi beli lebih banyak barang impor (misal HP, mobil) karena merasa punya uang. Tapi karena permintaan tinggi, harga barang ekspor buatan mereka jadi naik dan kurang laku. Akhirnya Utang bapak bertambah (defisit fiskal). Mereka lebih banyak beli dari luar negeri daripada jual ke luar negeri (defisit transaksi berjalan). Itulah defisit kembar dalam skala rumah tangga.

Ringkasan Inti

Komponen
Keuangan pemerintah=> Pengeluaran > Pendapatan
Perdagangan luar negeri=> Impor > Ekspor
Akar masalah=>  Belanja berlebihan yang dibiayai utang luar negeri

Contoh ini mengabaikan faktor kompleks seperti Ricardian equivalence atau intervensi bank sentral, hanya untuk menunjukkan mekanisme dasar.

Contoh lain menggunakan skenario kebijakan populis menjelang pemilu.
Pemerintah Negara Z ingin populer di mata rakyat dengan memberikan berbagai subsidi BBM, listrik, dan bantuan sosial besar-besaran. Namun, penerimaan pajak tidak meningkat.

Angka sederhananya:

· Pendapatan negara = 80
· Belanja negara (termasuk subsidi) = 110
· Defisit fiskal = 30

Pemerintah tidak cukup punya tabungan dalam negeri (hanya 5), sehingga 25 dipinjam dari luar negeri (dana asing masuk).

Dampak ke transaksi berjalan:

1. Dana asing yang masuk membuat nilai tukar mata uang Z menguat 20%.
2. Akibatnya:
· Ekspor garmen dan elektronik Z turun 20 (karena harga lebih mahal bagi pembeli luar negeri).
· Impor pangan dan mesin naik 10 (karena lebih murah bagi warga Z).
3. Perubahan neto: -20 (ekspor turun) + (-10 karena impor naik, artinya defisit bertambah) = -30 pada neraca transaksi berjalan.

Hasil akhir:

· Defisit fiskal = 30
· Defisit transaksi berjalan = 30
→ Defisit kembar

Jika ingin berlangganan artikel karya Saham Daily edisi BULETIN dan CIRCULAR, klik link di bawah ini atau Whatsapp ke 085737186163

Langganan Saham Daily Services: Buletin, Circular, Database & Info Saham Terkini

 

 

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *