Kelas menengah di Indonesia memegang peran yang sangat krusial, sering disebut sebagai pilar atau fondasi utama perekonomian nasional. Peran ini tidak hanya terbatas pada satu sektor, tetapi mencakup berbagai aspek fundamental ekonomi. Kelas menengah adalah kekuatan dominan dalam konsumsi masyarakat. Di balik peran vitalnya, kelas menengah Indonesia saat ini tengah menghadapi tekanan besar. Meski masih menjadi motor ekonomi, jumlah mereka terus tergerus, yang menjadi alarm bagi stabilitas ekonomi jangka panjang. Dalam lima tahun terakhir, sekitar 9,48 juta orang dari kelas menengah turun status ekonominya. Pada 2025, jumlah mereka tercatat 46,7 juta orang atau hanya 16,6% dari total populasi, turun dari 21,5% pada 2019. Pada 2025, pertumbuhan konsumsi kelas menengah hanya 4,1%, paling rendah dibandingkan kelas ekonomi lainnya (kelas atas mencapai 6,8% dan kelas rentan 5%). Hal ini mengindikasikan adanya tekanan daya beli yang nyata. Biaya hidup, pendidikan, dan kesehatan yang terus melambung tidak diimbangi dengan pendapatan. Mayoritas pendapatan bulanan (sekitar 41%) terkuras untuk kebutuhan pokok sehari-hari, dan tekanan PHK terus terjadi di berbagai sektor formal. Hal ini memaksa mereka mengambil pekerjaan sampingan demi ketahanan finansial.
Tiga badai ekonomi—rupiah yang terus melemah hingga menyentuh rekor terendah, ancaman imported inflation, dan terkoreksinya IHSG hingga lebih dari 20% secara YTD—kini secara simultan membebani kelas menengah. Tekanan ini semakin memberatkan bagi kelompok yang sudah lama terhimpit dan hidup tanpa “jaring pengaman” dari negara. Dari sisi fiskal, pelemahan rupiah membuat biaya impor barang kebutuhan melonjak, yang kemudian membebani APBN melalui subsidi energi.
Sebagai negara dengan ketergantungan impor tinggi, pelemahan rupiah langsung mendorong kenaikan harga berbagai barang.
Daya beli kelas menengah sangat tertekan karena kenaikan upah rata-rata (sekitar 3-4%) dianggap sulit mengejar laju inflasi yang diperkirakan mencapai 2,5% hingga 3,5% di tahun ini dengan catatan sulit untuk menabung/berinvestasi. Kenaikan harga BBM nonsubsidi sebelumnya semakin memperparah efek domino pada biaya logistik dan harga barang. Kondisi ini memaksa kelas menengah mengurangi tabungan, menunda perawatan kesehatan, dan menekan biaya pendidikan anak. Koreksi IHSG menekan nilai investasi kelas menengah di pasar modal. Selain itu, tekanan pada sektor manufaktur berisiko memicu PHK, semakin memperburuk tekanan pendapatan mereka.
Contoh Kenaikan BBM non-subsidi yang terjadi sejak April 2026 merupakan pukulan bertubi-tubi bagi kelas menengah, yang saat ini sedang berjuang di tengah penurunan jumlah dan tekanan ekonomi yang terus meningkat. Kenaikan ini diterapkan pada beberapa jenis BBM dengan rata-rata lonjakan mencapai 60%:
· Pertamax Turbo (RON 98): Naik menjadi Rp 19.900/liter dari sebelumnya Rp 13.100/liter.
· Dexlite: Naik menjadi Rp 26.000/liter dari sebelumnya Rp 14.200/liter.
· Pertamina Dex: Naik menjadi Rp 27.900/liter dari sebelumnya Rp 14.500/liter.
Mereka menghabiskan porsi terbesar untuk energi (8,86% dari total pengeluaran), namun tidak masuk dalam program bansos sehingga paling rentan terdampak kenaikan harga energi. Kenaikan BBM Turbo dan Dexlite langsung membebani pengeluaran bulanan, terutama bagi kelas menengah yang memiliki kendaraan pribadi. Lonjakan ongkos logistik mengerek harga bahan pokok, memberikan tekanan ganda pada dompet mereka. Kenaikan ini diperkirakan menambah inflasi hingga 0,3%, yang secara langsung mempercepat tergerusnya daya beli, mengancam kelangsungan usaha dan berisiko mengurangi lapangan kerja.
Kesimpulan: Kelas menengah berada dalam posisi yang paling terjepit. Mereka menanggung beban kenaikan harga dari imported inflation dan koreksi IHSG, tanpa mendapatkan subsidi energi atau bantuan sosial yang dinikmati kelas bawah. Risiko penurunan kelas (downward mobility) menjadi sangat nyata jika tekanan ini terus berlanjut.
Jika ingin berlangganan artikel karya Saham Daily edisi BULETIN dan CIRCULAR, klik link di bawah ini atau Whatsapp ke 085737186163
Langganan Saham Daily Services: Buletin, Circular, Database & Info Saham Terkini