Dampak Penutupan Selat Hormuz terhadap APBN 2026

Penutupan Selat Hormuz akibat eskalasi konflik Iran-AS-Israel pada Maret 2026 telah menciptakan guncangan signifikan yang berdampak langsung pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026. Dampak ini mengalir melalui tiga saluran utama: lonjakan harga energi, pelemahan nilai tukar rupiah, dan tekanan pada sektor eksternal.

Berikut penjelasan rinci mengenai dampaknya terhadap APBN 2026:

1. Beban Subsidi Energi Membengkak

Dampak paling langsung dan signifikan dirasakan pada belanja negara, khususnya subsidi energi. Sebagai negara net importir minyak, Indonesia sangat rentan terhadap kenaikan harga minyak global akibat terganggunya pasokan melalui Selat Hormuz yang memasok 20% minyak dunia.

Lonjakan Harga Minyak: Konflik ini memicu proyeksi kenaikan harga minyak mentah jauh di atas asumsi APBN 2026 yang ditetapkan sebesar USD 70 per barel. Beberapa analis memproyeksikan harga dapat menembus USD 100 hingga USD 150 per barel jika konflik berlanjut.
Simulasi Dampak Fiskal: Kenaikan ini memiliki konsekuensi fiskal yang besar. Berdasarkan simulasi APBN 2026, setiap kenaikan harga minyak sebesar USD 1 per barel akan menambah beban belanja negara sekitar Rp 10,3 triliun.
Jika harga minyak mencapai USD 120 per barel (atau naik USD 50 dari asumsi), potensi tambahan beban belanja bisa mencapai Rp 515 triliun. Beban ini mencakup peningkatan subsidi BBM, kompensasi yang harus dibayar kepada PT Pertamina (Persero), dan subsidi listrik.
Dilema Kebijakan: Pemerintah dihadapkan pada pilihan sulit: menaikkan harga BBM bersubsidi (seperti Pertalite) yang akan memicu inflasi dan menekan daya beli, atau membiarkan defisit APBN membengkak akibat melonjaknya subsidi dan kompensasi energi.

2. Pelemahan Nilai Tukar Rupiah

Konflik geopolitik memicu perilaku “risk-off” di pasar keuangan global, di mana investor menarik modal dari negara berkembang (termasuk Indonesia) untuk mencari aset aman. Hal ini menyebabkan tekanan tambahan pada APBN:

Meningkatnya Biaya Impor: Pelemahan rupiah memperparah dampak kenaikan harga minyak. Karena impor minyak dan komoditas lainnya dilakukan dalam dolar AS, nilai belanja dalam rupiah ikut melonjak. Guru Besar Universitas Airlangga, Rahma Gafmi, bahkan memperkirakan rupiah berpotensi melemah hingga level Rp 17.000 per dolar AS.
Beban Ganda APBN: Pelemahan rupiah menciptakan “beban ganda” karena pemerintah harus mengeluarkan rupiah lebih banyak untuk membiayai subsidi energi yang sama, sekaligus berpotensi meningkatkan beban pembayaran utang luar negeri.

3. Tekanan Inflasi dan Dampak Sektoral

Dampak konflik tidak berhenti di sektor energi, tetapi merembet ke sektor riil dan menekan perekonomian secara luas, yang pada akhirnya mempengaruhi penerimaan negara.

Inflasi Volatile Food: Kenaikan harga minyak dan pelemahan rupiah mendorong kenaikan biaya logistik dan transportasi. Hal ini langsung berdampak pada harga pangan (inflasi volatile food), yang diperkirakan bisa naik 3-5% hanya dalam satu bulan. Inflasi yang tinggi berisiko menekan daya beli masyarakat dan pada akhirnya dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi serta penerimaan perpajakan.
Diversifikasi Impor: Pemerintah melalui PT Pertamina telah melakukan langkah antisipasi dengan melakukan diversifikasi sumber pasokan minyak, termasuk melalui Nota Kesepahaman dengan perusahaan-perusahaan AS seperti Chevron dan ExxonMobil untuk mengimpor dari luar kawasan Timur Tengah. Namun, efektivitas langkah ini bergantung pada kecepatan realisasi dan ketersediaan pasokan alternatif di pasar global.
Kinerja Ekspor: Dampak terhadap ekspor masih bersifat simetris. Di satu sisi, konflik dapat meningkatkan harga komoditas ekspor unggulan Indonesia. Namun, gangguan rantai pasok global dan pelemahan permintaan dari mitra dagang utama dapat menekan volume ekspor. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, impor terbesar Indonesia dari kawasan Teluk (terutama UEA dan Oman) didominasi komoditas seperti besi baja dan logam mulia yang vital bagi industri, sehingga gangguannya bisa menghambat sektor manufaktur.

Penutupan Selat Hormuz dan eskalasi konflik di Timur Tengah berdampak pada sektor-sektor usaha tertentu di Indonesia. Dampaknya terbagi menjadi dua kelompok besar: sektor yang mengalami tekanan berat dan sektor yang justru diuntungkan.

Sektor Usaha yang Tertekan (Sisi Gelap Konflik)

Konflik ini menciptakan efek domino yang merugikan bagi sektor-sektor yang bergantung pada perdagangan internasional, stabilitas biaya logistik, dan bahan baku impor.

Eksportir ke Timur Tengah & Afrika (Goncangan Langsung): Ini adalah sektor yang paling langsung merasakan dampaknya. Penutupan Selat Hormuz melumpuhkan rute pengiriman ke kawasan tersebut.
Dampak Spesifik: Pembatalan dan penundaan kontrak ekspor secara massal. Contoh nyata adalah industri sarung tradisional di Tegal, dimana sekitar 50.000 potong sarung batal dikirim ke Timur Tengah dan Afrika. Pengusaha melaporkan tidak ada pengiriman sama sekali sejak konflik memanas, menyebabkan kerugian besar di saat seharusnya memasuki musim puncak permintaan Lebaran.
Penyebab Utama: Gangguan rute pelayaran, peningkatan premi risiko, dan ketidakpastian pengiriman.

Industri Pengolahan Pangan & Manufaktur (Tekanan Bahan Baku): Sektor ini mengalami “tekanan ganda” dari kenaikan biaya impor dan distribusi.
Dampak Spesifik: Kenaikan harga bahan baku impor dan biaya logistik.
Industri Tahu dan Tempe (Kedelai): Harga kedelai impor di Bandung, Jawa Barat, langsung merangkak naik hingga Rp 10.200 per kg dari kisaran Rp 9.000 – Rp 9.500 awal tahun. Pengusaha khawatir harga bisa terus melonjak jika konflik berlanjut, mengingat pengalaman konflik Laut Merah sebelumnya sempat membuat harga mencapai Rp 12.000 – Rp 14.000.
Industri Makanan & Minuman Lainnya: Sektor ini juga terancam oleh kenaikan harga gandum dan bahan baku impor lainnya, ditambah lagi dengan kewajiban impor komoditas tertentu dari AS berdasarkan perjanjian dagang yang ada.
Penyebab Utama: Kenaikan biaya pengiriman akibat gangguan rute dan melonjaknya harga minyak dunia.

Sektor Logistik & Perdagangan (Efek Domino Biaya): Konflik memicu kenaikan biaya di seluruh rantai pasok, yang pada akhirnya akan dibebankan ke harga barang.
Dampak Spesifik: Kenaikan biaya logistik yang signifikan. CEO Supply Chain Indonesia, Setijadi, menghitung dalam tiga skenario dampak kenaikan harga solar terhadap ongkos angkut:
Skenario Berat (kenaikan solar 30%): Ongkos angkut truk berpotensi naik 10,5% – 12%.
Dampak ke Harga Barang: Kenaikan ongkos truk 7-8% bisa menaikkan harga barang rata-rata 0,5%, terutama untuk komoditas curah seperti pangan dan bahan bangunan.
Penyebab Utama: Kenaikan harga minyak global yang mendorong harga solar domestik, komponen utama biaya transportasi.

Sektor Usaha yang Diuntungkan (Sisi Terang Konflik)

Di tengah krisis, beberapa sektor komoditas justru mendapatkan berkah dari lonjakan harga.

Emiten Sektor Energi & Pertambangan (Komoditas): Kenaikan harga komoditas energi global menjadi angin segar bagi perusahaan-perusahaan di sektor ini.
Dampak Spesifik: Peningkatan harga jual rata-rata (average selling price/ASP) dan potensi perbaikan margin. Saham-saham sektor energi dan pertambangan seperti MEDC, ANTM, ENRG berpotensi menjadi “lindung nilai” terhadap risiko geopolitik.
Penyebab Utama: Indonesia adalah eksportir batu bara dan komoditas energi. Kenaikan harga komoditas ini dapat menopang kinerja sektor tersebut meskipun pasar modal sedang bergejolak.

Dengan kata lain, konflik ini menciptakan pemenang dan pecundang di lanskap bisnis Indonesia. Sektor yang terkait komoditas energi menikmati “durian runtuh,” sementara sektor manufaktur berorientasi ekspor dan pengguna bahan baku impor harus bergulat dengan biaya yang membengkak dan permintaan yang mandek.

Disclaimer On: Tulisan ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham tertentu. Keputusan Investasi/Trading sepenuhnya ada di tangan pembaca. Saham Daily tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari Keputusan Investasi/Trading yang dilakukan oleh Pembaca.

Jika ingin berlangganan artikel karya Saham Daily edisi BULETIN dan CIRCULAR, klik link di bawah ini atau Whatsapp ke 085737186163

Langganan Saham Daily Services: Buletin, Circular, Database & Info Saham Terkini

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *