Penguatan Ringgit Malaysia (MYR) terhadap USD di awal Januari 2026, yang berlawanan dengan pelemahan Rupiah, didorong oleh fundamental ekonomi yang lebih spesifik pada sektor teknologi dan kebijakan fiskal.
Berikut alasan utama mengapa MYR tampil perkasa:
1. Booming Ekspor Teknologi dan AI
Malaysia telah berhasil memposisikan diri sebagai pusat rantai pasok teknologi global di Asia Tenggara.
Pusat Data (Data Centers): Malaysia mengalami lonjakan investasi asing langsung (Foreign Direct Investment/FDI) yang masif ke sektor pusat data. Ekspor jasa pusat data melonjak tajam dari RM 1,2 miliar di tahun 2024 menjadi lebih dari RM 10,7 miliar pada akhir 2025.
Permintaan AI: Permintaan global terhadap semikonduktor dan infrastruktur Kecerdasan Buatan (AI) memberikan dukungan besar pada neraca perdagangan Malaysia, yang memberikan sentimen positif langsung pada Ringgit.
2. Kebijakan Moneter yang Stabil (Bank Negara Malaysia)
Berbeda dengan ekspektasi pasar terhadap Bank Indonesia yang mungkin harus menyesuaikan suku bunga karena inflasi pangan, Bank Negara Malaysia (BNM) diperkirakan akan mempertahankan suku bunga stabil di level yang menarik.
Yield yang Kompetitif: Pasar melihat kebijakan BNM yang tetap konsisten memberikan kepastian bagi investor asing untuk tetap menempatkan modalnya di aset berdenominasi Ringgit.
Sikap Hawkish: Goldman Sachs memproyeksikan MYR bisa menguat hingga ke level 3,95 per USD pada tahun 2026 karena perbedaan imbal hasil yang menyempit dengan AS.
3. Kinerja Ekspor Minyak Sawit (CPO)
Awal Januari 2026 mencatatkan kenaikan volume ekspor CPO Malaysia yang signifikan. Data menunjukkan ekspor CPO Malaysia pada periode 1-5 Januari 2026 melejit 31% dibandingkan periode yang sama bulan sebelumnya. Antisipasi permintaan menjelang Ramadan (Februari) dan Tahun Baru Imlek meningkatkan aktivitas perdagangan di Bursa Malaysia, yang memperkuat permintaan akan Ringgit.
4. Konsolidasi Fiskal Pemerintah
Langkah pemerintah Malaysia dalam melakukan reformasi subsidi dan konsolidasi fiskal mulai membuahkan hasil dalam bentuk kepercayaan investor. Hal ini membuat MYR seringkali menjadi “pilihan utama” di antara mata uang Asia lainnya saat terjadi volatilitas global, karena dianggap memiliki risiko fiskal yang lebih rendah dibandingkan negara tetangga.
Ringkasan Perbandingan (Januari 2026):
Penguatan Baht Thailand (THB) terhadap USD di awal Januari 2026 merupakan fenomena yang cukup menarik, karena justru terjadi di tengah kondisi ekonomi domestik Thailand yang sedang melambat.
Berikut beberapa faktor utama yang menyebabkan Baht tetap menguat terhadap USD:
1. Surplus Neraca Perdagangan dan Kinerja Ekspor
Meskipun ada kekhawatiran mengenai daya saing, data menunjukkan bahwa ekspor Thailand tumbuh cukup solid sebesar 9,1% pada paruh kedua tahun lalu.
Korelasi dengan Yuan China: Baht memiliki sensitivitas tinggi terhadap mata uang Yuan. Penguatan Yuan baru-baru ini memberikan dorongan tambahan bagi Baht karena ketergantungan perdagangan yang besar antara Thailand dan China.
Ekspor Emas: Pemerintah Thailand mulai menerapkan bea keluar untuk emas pada tahun 2026. Aktivitas perdagangan emas yang tinggi di Thailand sering kali memberikan dampak fluktuasi positif pada nilai tukar Baht.
2. Optimisme Sektor Pariwisata
Sektor pariwisata tetap menjadi tulang punggung kekuatan Baht.
Target Pendapatan: Pemerintah Thailand menargetkan pendapatan pariwisata sebesar THB 2,8 triliun untuk tahun 2026 melalui inisiatif “Trusted Thailand“.
Faktor Musiman: Secara historis, periode November hingga Januari adalah musim puncak (peak season) kunjungan turis asing ke Thailand, yang meningkatkan permintaan terhadap Baht secara masif.
3. Dinamika Aliran Modal (Capital Inflows)
Pelemahan imbal hasil (yield) aset berdenominasi Dolar AS mendorong investor global untuk mengalihkan modalnya ke pasar Asia. Baht menjadi salah satu tujuan utama aliran modal ini karena stabilitas harga (inflasi yang sangat rendah, bahkan sempat tercatat negatif -0,28% pada Desember 2025).
4. Kebijakan Moneter Bank of Thailand (BoT)
Meskipun ekonomi melambat (hanya tumbuh sekitar 1,2% – 1,3%), Bank of Thailand menunjukkan sikap yang hati-hati dalam menurunkan suku bunga.
Menahan Suku Bunga: Pasar melihat BoT tidak terburu-buru melakukan pelonggaran moneter yang agresif untuk menjaga stabilitas nilai tukar dari volatilitas global.
Intervensi Pasar: BoT secara aktif memantau pergerakan Baht untuk memastikan tidak ada volatilitas yang berlebihan, yang memberikan kepercayaan bagi investor.
Pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap USD di awal Januari 2026, yang berlawanan dengan tren beberapa mata uang ASEAN lainnya, dipengaruhi oleh beberapa faktor fundamental dan sentimen pasar global berikut:
1. Kenaikan Indeks Dolar AS (DXY) dan Yield Treasury
Secara global, Indeks Dolar AS (USD Index) mengalami penguatan. Pada data terbaru tanggal 7 Januari 2026, Indeks USD naik +0,13% ke level 98,7. Selain itu, imbal hasil (yield) obligasi AS tenor 10 tahun tetap berada di level yang relatif tinggi (sekitar 4,15% – 4,18%), yang menarik aliran modal kembali ke aset berdenominasi USD.
The Fed Tetap Hati-Hati: Meskipun data ekonomi AS menunjukkan pelemahan di sektor manufaktur (PMI AS di level 47,9), pejabat Federal Reserve masih bersikap hawkish atau berhati-hati dalam memangkas suku bunga. Hal ini menjaga indeks Dolar tetap kuat di level 98,5 – 98,7.
2. Tekanan Eksternal: Geopolitik Venezuela
Sentimen negatif muncul akibat aksi militer Amerika Serikat terhadap Venezuela dan penangkapan pemimpin Nicolas Maduro. Ketidakpastian geopolitik ini sering kali memicu perilaku risk-off di mana investor menarik dana dari pasar negara berkembang (emerging markets) seperti Indonesia untuk dipindahkan ke aset yang lebih aman (safe haven).
3. Penurunan Surplus Neraca Perdagangan
Indonesia mencatatkan penyempitan surplus perdagangan menjadi USD 2,84 miliar pada November 2025 akibat penurunan ekspor yang tajam. Penurunan harga komoditas utama seperti batu bara dan tembaga memperlemah pasokan valuta asing (USD) di dalam negeri. Data perdagangan terbaru menunjukkan bahwa fundamental ekspor Indonesia sedang di bawah tekanan.
Penurunan Ekspor: Ekspor Indonesia pada November 2025 tercatat turun tajam sebesar -6,6% (lebih dalam dari periode sebelumnya sebesar -2,31%).
Harga Komoditas: Penurunan harga komoditas utama (seperti batu bara dan minyak sawit) mengurangi aliran masuk Dolar ke Indonesia, yang secara otomatis memperlemah nilai tukar Rupiah.
4. Kenaikan Inflasi Domestik
Inflasi utama Indonesia naik menjadi 2,92% YoY pada Desember 2025, merupakan level tertinggi sejak April 2024. Kenaikan harga pangan akibat gangguan cuaca dan musiman menjadi pendorong utama, yang dapat menekan daya beli dan stabilitas nilai tukar.
5. Arus Modal Keluar (Foreign Outflow)
Meskipun secara keseluruhan pasar mencatatkan beli bersih di beberapa periode, terjadi aksi jual asing yang signifikan pada saham-saham berkapitalisasi besar dan komoditas di pasar reguler. Sebagai contoh:
BUMI: Mencatatkan net sell asing sebesar IDR 385,1 miliar pada 7 Januari dan IDR 509,2 miliar pada 6 Januari.
BMRI: Mencatatkan net sell asing hingga IDR 594 miliar dalam satu hari perdagangan.
Aksi jual saham oleh investor asing ini mengharuskan mereka menukar Rupiah kembali ke USD, sehingga menambah tekanan pelemahan pada nilai tukar Rupiah.
6. Defisit APBN
Pasar juga mengantisipasi pelebaran defisit APBN 2026 yang menuntut pembiayaan besar, yang seringkali direspon negatif oleh nilai tukar jika tidak diimbangi dengan arus masuk modal yang kuat. Defisit APBN 2025 mencapai 2.92% dari PDB (2.3% tahun 2024 dan target 2.53%)
7. Tekanan Pembayaran Utang Luar Negeri
Januari sering kali menjadi periode dengan kebutuhan valuta asing yang tinggi untuk korporasi dan pemerintah.
Permintaan Dolar Tinggi: Adanya jadwal jatuh tempo utang luar negeri dan pembayaran bunga obligasi dalam mata uang USD memaksa korporasi domestik untuk membeli Dolar di pasar spot, yang memberikan tekanan jual pada Rupiah.
IDR vs MYR
Pendorong Utama:
IDR=> Tekanan inflasi pangan & utang valas.
MYR=> Ekspor teknologi (AI) & pusat data.
Sentimen Komoditas:
IDR=> Harga batu bara & tembaga melandai.
MYR=> Volume ekspor CPO melonjak tajam.
Arus Modal:
IDR=> Net sell asing cukup tinggi (BUMI, BMRI).
MYR=> Arus masuk investasi langsung (FDI) kuat.
IDR Vs THB
Status Inflasi:
IDR=> Tinggi (2,92%), menekan nilai mata uang.
THB => Sangat rendah/Deflasi (-0,28%), daya beli mata uang terjaga.
Sektor Unggulan:
IDR=> Komoditas (Batu bara/Tembaga) yang harganya turun.
THB=> Pariwisata yang sedang masuk peak season.
Sentimen Regional:
IDR=> Tertekan pembayaran utang valas.
THB=> Mengikuti penguatan Yuan China.
Penguatan mata uang regional seperti Baht dan Ringgit bisa menjadi indikator bahwa arus modal sebenarnya masih masuk ke Asia Tenggara, namun saat ini investor sedang lebih selektif dan cenderung memilih negara dengan risiko inflasi yang lebih rendah dari Indonesia. Pelemahan Rupiah saat ini lebih banyak dipengaruhi oleh faktor internal (inflasi & pembayaran utang) dan ketergantungan pada komoditas energi, sementara Ringgit sedang memanen hasil dari investasi di sektor teknologi masa depan.
Jika ingin mendapatkan artikel karya Saham Daily edisi BULETIN dan CIRCULAR, untuk berlangganan klik link di bawah ini atau Whatsapp ke 085737186163