NCKL updated

IPO NCKL (PT Trimegah Bangun Persada Tbk) Emiten Nikel dengan kegiatan penambangan nikel dan peleburan nikel yang berlokasi di Pulau Obi, Halmahera Selatan, Maluku Utara, yang sahamnya sebanyak 81,18% pasca IPO dikuasai oleh PT Harita Jayaraya. Keluarga Lim Hariyanto Wijaya Sarwono via Group Harita juga memiliki perusahaan tambang bauksit melalui PT Cita Mineral Investindo tbk (CITA). NCKl  sebagai perusahaan nikel yang memiliki kemampuan dari hulu ke Hilir, Sektor Hulu berupa penambangan bijih nikel yang menghasilkan saprolite dan limonit, sektor hilir berupa peleburan dan pemurnian bijih nikel yang menghasilkan Feronikel sebagai bahan baku utama pembuatan baja nirkarat (stainless steel) dan Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) serta produk turunannya Nikel Sulfat dan Kobalt Sulfat yang merupakan bahan baku utama pembuatan prekusor baterai kendaraan listrik.

 

NCKL memiliki dua proyek tambang nikel laterit  aktif seluas 5.523,99 hektar berlokasi di Desa Kawasi, Halmahera Selatan, Maluku Utara (cadangan saprolit 37,57 juta wmt (wet metric ton) dan cadangan limonit 70,82 juta wmt & di daerah  Loji (cadangan saprolit 13,85 juta wmt & Limonit 38,47 juta wmt)

 

NCKL mengoperasikan dua smelter yaitu Smelter Rotary Klin Electric Furnace (RKEF) kapasitas produksi 25 ktpa dan smelter HPAL kapasitas 37 ktpa, NCKL menargetkan akan meningkatkan kapasitas produksi feronikel menjadi 219 ktpa di 2025 dan kapasitas smelter HPAL nya menjadi 120 ktpa di 2024. Proyek RKEF 9 ktpa dan 185 ktpa akan memulai kegiatan produksinya masing-masing pada Kuartal II/2023 dan Kuartal II/2025

 

Untuk pembangunan smelter HPAL akan dibagi menjadi 3 tahap:

Tahap 1: kapasitas 37 ktpa sudah selesai dan saat ini beroperasi dengan kapasitas penuh

Tahap 2: kapasitas 18 ktpa dan total kapasitas 55ktpa akan mulai aktifitas produksi di Q1 2023.

Tahap 3: adanya tambahan produksi  sebesar 65 ktpa dari anak perusahaan Lygend (mitra NCKL), ONC (NCKL hold 10% saham ONC) mulai Q1 2024, yang akan meningkatkan total kapasitas HPAL NCKL menjadi 120 ktpa. Lygend merupakan perusahaan asal Tiongkok yang menyediakan rantai pasok industri nikel terintegrasi dari hulu ke hilir, Lygend baru listed di Bursa Efek Hongkong di Desember Tahun 2022.

Investasi NCKL di Hilirisasi Nikel melalui :

45,10% di PT Halmahera Persada Lygend (HPL)-anak Lygend dimana HPL ini merupakan perusahaan yang mengoperasikan Proyek HPAL tahap I dan Tahap II di pulau Obi, yang memproduksi Nikel Kobalt. Dimana HPL ini resmi beroperasi sejak 23 Juni 2021.

35% di PT Karunia Permai Sentosa (KPS)-anak Lygend, yang mengoperasikan Proyek KPS RKEF Tahap II yang diharapkan KPS bisa memproduksi 185.000 logam feronikel per tahun dan bisa berproduksi di Q2 Tahun 2025.

35% saham di PT Obi Stainless Steel (OSS)-anak Lygend untuk membangun kilang stainless steel di Pulau Obi, saat ini masih dalam tahap desain dan perencanaan awal.

40% saham di PT Dharma Cipta Mulia (DCM)-anak Lygend untuk mengerjakan proyek DCM yang akan melibatkan pengoperasian kawasan industri di Pulau Obi.

 

NCKL memiliki dua konsesi proyek tambang nikel di Tabuji-Lauwi & Jikodolong (cadangan Saprolit 3,63 juta wmt dan Limonit 4,54 juta wmt) dengan luas 3.660,24 hektar

 

Hingga September 2022

NCKL menghasilkan penjualan :

Rp 5,5 Triliun (Rp 3,9 T dari Lygend Resources & Technology Co Ltd-China, Rp 1,6 T dari Glencore International  AG – Swiss)

Rp 1,9 Triliun dari PT Halmahera Persada Lygend.

 

Hingga Nov 2023, NCKL meraih pendapatan Rp 9,04 Triliun naik 17,32%  dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Laba periode berjalan naik 207,95% dari Rp 1,39 T per November 2021 menjadi Rp 4,30 T per 30 Nov 2022.

 

NCKL akan meningkatkan produksi nikel hingga mencapai 100.000 metrik ton di tahun 2023. Di tahun 2022,kapasitas output dari pengolahan dengan teknologi Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) hanya 25.000 metric ton nikel sedangkan produksi Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) di tahun 2022 sebesar 40.000 metrik ton, pada tahun 2023 produksi MHP diproyeksi naik jadi 60.000 metrik ton.

 

NCKL juga berjanji membagikan dividen kepada pemegang saham maksimum 30% dari Laba Bersih.

NCKL ini akan IPO dengan menawarkan 12,1 miliar saham atau setara dengan 18% dari modal ditempatkan disetor dengan Harga Penawaran (Book Building) Rp 1.220 – 1.250 dengan potensi raihan dana IPO  Rp 14,8 T – 15,1 Triliun

Rencana penggunaan dana IPO untuk

38,08% modal kerja

32,27% Setoran Modal  & pinjaman ke entitas anak untuk mendanai Proyek RKEF dan HPAL

15,13% bayar hutang ke OCBC NISP

6,05% bayar hutang ke PT Dwimuria Investama Andalan (pengendali Bank Central Asia)

5,46% bayar hutang ke PT Harita Jayaraya

2,12% capex

0,89% bayar utang ke OCBC NISP

 

Jadual penawaran umum 5-10 April 2023

Underwriter : Mandiri Sekuritas

 

NCKL via PT Halmahera Persada Lygend (HPL)  menargetkan pengiriman produk nikel sulfat mencapai 240.000 ton dalam setahun,  dimana pada 16 Jun 2023 telah dilakukan pengiriman perdana 5.584 ton nikel sulfat yang dikemas dalam 290 Kontainer yang dikapalkan ke China.

Nikel Sulfat hasil pemurnian di Pulau Obi, Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara akan digunakan dalam produksi baterai lithium dengan kandungan nikel yang tinggi. NCKL menjadi pionir di Indonesia dalam pengolahan dan pemurnian nikel limonit (kadar rendah) dengan teknologi High Pressure Acid Leach  yang mampu mengolah nikel limonit yang selama ini tidak dimanfaatkan menjadi produk bernilai tambah yaitu Mixed Hydroxide Precipitate (MHP), dimana MHP ini diolah menjadi Nikel Sulfat (NiSO4) dan Kobalt Sulfat (CoSO4) yang merupakan bahanbaku baterai kendaraan listrik.

NCKL di tahun 2023, meraih laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk Rp 5,61 Triliun, naik 20,40% dibandingkan tahun 2022 Rp 4,66 Triliun. Pendapatan Rp 23,85 Triliun, naik 150% dibandingkan tahun 2022 Rp 9,56 Triliun. NCKL mayoritas menjual nikelnya kepada Lygend Resources & Technology Co Ltd, Tiongkok dengan kontribusi penjualan mencapai Rp 10,30 Triliun, naik 89% dibandingkan penjualan tahun 2022 Rp 5,44 Triliun. NCKL juga menjual kepada Ningbo Lygend Wisdom Co. Ltd, Tiongkok sebanyak Rp 7,43 Triliun dan menjual ke Glencore International AG, Swiss sebanyak Rp 2,77 Triliun dari tahun 2022 Rp 1,65 Triliun.

NCKL mencatatkan kenaikan produksi dan penjualan bijih nikel dan feronikel yang signifikan sepanjang 2023. Realisasi produksi bijih nikel perseroan sepanjang 2023 tercatat mencapai 20,75 juta wet metrik ton (wmt), naik 93,7% dibandingkan realisasi pada 2022 yang mencapai 10,72 juta wmt.
NCKL berencana melakukan akuisisi tambang nikel di tahun 2024, untuk itu NCKL akan melakukan Right Issue maksimum 18,92 juta saham (30% dari modal ditempatkan dan disetor perusahaan). Rumornya ada tiga entitas yang akan menyerap RI tersebut yaitu Glencore, Itochu dan UNTR (United tractors).
Disclaimer ON :
Masing-masing Trader/ Investor bertanggung jawab atas Transaksi yang dilakukan, keputusan Investasi sepenuhnya ada di tangan Trader / Investor. Sahamdaily tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari Keputusan Trader / Investor.
Yuk download Aplikasi Sahamdaily di Playstore maupun di AppStore
Username dan Password : huruf  kecil dan angka minimal 8 digit, misal Username: budiman9, Password: budi1234

Jika Anda ingin bergabung Menjadi Premium Member Sahamdaily, klik link dibawah ini:

Join Membership

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *