Kandidat Bank-bank Digital

Bank Digital menjadi hot topic pembicaraan. Tujuan didirikan Bank Digital ini untuk meningkatkan keikutsertaan masyarakat dalam sektor keuangan berbagai wilayah di Indonesia. Masyarakat bisa mengakses berbagai produk keuangan mulai dari asuransi, pasar modal (obligasi, saham dan reksadana, valuta asing). Bank digital ini diharapkan menuju branchless banking sehingga memungkinkan bank untuk menghemat Capex serta ongkos operasionalnya untuk mendirikan kantor cabang dan mengalihkannya ke investasi di infrastruktur teknologi digital.

OJK saat masih dalam proses penyusunan regulasi terkait bank digital secara umum pendirian bank digital akan terbagi menjadi dua kelompok. Pertama, pendirian bank baru yang beroperasi sebagai bank digital dengan modal inti minimal Rp10 triliun. Kedua, bank konvensional yang bertransformasi menjadi bank digital. Bank Konvensional memiliki segmen pasar yang beragam, mulai dari korporasi, ritel, UMKM, maupun wealth management. Sementara itu, segmen pasar bank digital masih mengarah kepada segmen ritel.

Nah kita amati ada beberapa bank yang disiapkan untuk Menjadi Bank Digital

BTPN (PT Bank BTPN Tbk) Pada 11 Agustus 2016, BTPN meluncurkan aplikasi inovasi perbankan digital yang diberi nama Jenius. Yang dapat diunduh di Play Store maupun App Store. Saat pandemi Covid-19 merebak di Indonesia pada 2020, jumlah pengguna Jenius disebut sudah mencapai 2,7 juta. Harga saham BTPN sendiri selama 3 bulan terakhir ini naik seebsar 18.44%

Lalu ada juga Jerry Ng yang mengakuisisi PT Bank Artos Indonesia Tbk (ARTO) lewat kendaraan yang bernama PT Metamorfosis dengan menguasai 37,65% saham ARTO. Patrick Sugito Waluyo, pendiri firma investasi NorthStar yang juga sekaligus investor perusahaan rintisan Gojek melakukan akuisisi 22% saham Bank Jago, dengan nilai transaksi sebesar Rp 2,25 triliun pada Desember tahun lalu. Saat ini PT Bank Artos Indonesia berubah nama menjadi Bank jago dengan kode emiten ARTO. ARTO (bank Jago Tbk) 3 bulan ini menguat 242,47%

Ditahun 2017 DBS Indonesia meluncurkan Digibank yang mengusung tema Bank Less Live More menggunakan apps digibank.

BCA juga tertarik untuk masuk ke Bank Digital dengan Cara mengakuisisi Bank Royal senilai Rp 988 miliar pada akhir 2019.

Chairul Tanjung melalui PT Mega Corpora mengakuisisi PT Bank Harda Internasional Tbk (BBHI). BBHI (Bank Harda Internasional Tbk) 3 bulan ini menguat 530,08%. Di tahun 2019, tepatnya di Bulan Maret fintech Akulaku melalui PT Akulaku Silvrr Indonesia mengambil alih 5,2% kepemilikan saham PT Gozco Capital di PT Bank Yudha Bhakti Tbk (BBYB). Akulaku menambah kepemilikan sahamnya di BBYB sebesar 8,29%. Kini total kepemillikan saham Akulaku di BBYB menjadi 24,98%. Di bawah kendali Akulaku, BBYB berganti nama menjadi Bank Neo Commerce. BBYB (Bank Neo Commerce Tbk) 3 bulan in imenguat 162,58 %.

BACA ( bank Capital Indonesia Tbk) 3 bulan ini. Menguat 99,49% yang kabarnya di lirik oleh GRAB

BNBA (bank Bumi Arta Tbk) 3 bulan ini menguat 357,22% yang rumornya di lirik oleh Sea Group (Shopee) dan Sea Group telah mengakuisisi bank kesejahteraan ekonomi. Sea Group sudah mencaplok PT Bank Kesejahteraan Ekonomi (Bank BKE) dan resmi mengganti nama bank tersebut menjadi PT Bank Seabank Indonesia (SeaBank).

AGRO (bank Rakyat Indonesia Agroniaga Tbk) 3 bulan ini menguat 212,21% yang disiapkan oleh BRI untuk menjadi Bank Digital.

BINA (bank ina Perdana Tbk) 3 bulan ini menguat 113,57% yang diakuisisi oleh Group salim dengan Jaringan Indomaretnya.

Jika Anda ingin bergabung Menjadi Premium Member Sahamdaily, klik link dibawah ini:

Join Membership

Disclaimer On: Tulisan ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham tertentu. Keputusan Investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Sahamdaily tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari Keputusan Investasi Pembaca

No HP Admin Sahamdaily : 085737186163. Website : www.sahamdaily.com

Leave a Comment

Your email address will not be published.