Pelebaran defisit APBN pada kuartal I-2026 menjadi sorotan karena mencapai Rp 240,1 triliun atau 0,93% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Angka ini merupakan defisit tertinggi yang pernah terjadi pada periode triwulan pertama sepanjang sejarah, biasanya APBN masih mencatatkan surplus pada bulan-bulan awal tahun. Meskipun secara nominal masih di bawah pagu defisit tahunan sebesar 2,68% PDB, realisasi ini setara dengan 34,8% dari target defisit setahun yang telah terpakai hanya dalam tiga bulan.
Ada dua faktor utama di balik membengkaknya defisit ini:
1. Akselerasi Belanja Negara (Front-Loading)
Pemerintah secara sadar mempercepat belanja sejak awal tahun 2026. Realisasi belanja negara mencapai Rp 815 triliun, tumbuh 31,4% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Belanja Pemerintah Pusat melonjak 47,7% menjadi Rp 610,3 triliun. Pertumbuhan belanja ini 3 kali lipat lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pendapatan (hanya 10,5%). Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan percepatan ini memang by design agar dampak fiskal terhadap pertumbuhan ekonomi lebih terasa secara merata sepanjang tahun.
2. Kinerja Pendapatan yang Kurang Solid
Di sisi lain, pendapatan negara hanya terealisasi Rp 574,9 triliun. Pemerintah menargetkan pertumbuhan penerimaan pajak hampir 20% di tahun 2026, sementara ekonomi hanya ditarget tumbuh 5%. Ekonom menilai target ini sejak awal memang “sangat agresif” dan berpotensi meleset hingga Rp 171-444 triliun. Pertumbuhan penerimaan masih ditopang Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang bersifat siklikal, sementara Pajak Penghasilan (PPh) Badan yang mencerminkan laba korporasi tumbuh terbatas. Penerimaan Bukan Pajak (PNBP) turun 3%, sementara penerimaan kepabeanan dan cukai terkontraksi hingga 12,6%.
Para ekonom dari berbagai lembaga (CORE Indonesia, INDEF) menilai kondisi ini sebagai “lampu merah” dan “peringatan dini yang serius” karena beberapa alasan utama:
Defisit Keseimbangan Primer (Primary Balance) yang Negatif: Realisasi menunjukkan penerimaan negara sudah tidak mampu menutup belanja negara di luar pembayaran bunga utang. Akibatnya, pembayaran bunga utang harus dibiayai dari utang baru, yang berpotensi memicu snowball effect atau efek bola salju utang.
Kualitas Belanja yang Dipertanyakan: Akselerasi belanja dinilai tidak efektif. Transfer ke Daerah (TKD) justru terkontraksi 1,1%, sementara belanja kementerian/lembaga (K/L) melonjak tanpa diimbangi efisiensi yang jelas. “Multiplier effect“-nya dinilai rendah karena belanja pusat cenderung memiliki lag ( jeda waktu yang panjang dalam penyerapan atau dampaknya terhadap ekonomi) lebih panjang dibandingkan belanja daerah.
Tekanan Eksternal yang Memperparah: Jika nilai tukar Rupiah melemah hingga Rp 17.500 per Dolar AS, Menteri Airlangga Hartarto memperingatkan defisit bisa menembus 4% PDB, melampaui batas aman undang-undang yang sebesar 3%.
Skenario Terburuk dan Bantalan Pemerintah
Skenario Tekanan Global: Proyeksi harga minyak US$105 per barel dan kurs Rp 17.000 diprediksi akan mendorong defisit melewati batas 3,6%.
Bantalan Fiskal (SAL): Pemerintah memiliki Saldo Anggaran Lebih (SAL) sebesar Rp 420 triliun yang disimpan di perbankan dan BI. Ini adalah “bantalan” darurat yang bisa digunakan jika subsidi energi membengkak tak terkendali akibat kenaikan harga minyak dan pelemahan rupiah. Namun, ekonom menilai tidak semua SAL dapat digunakan secara fleksibel karena sebagian sudah terikat komitmen.
Meskipun pemerintah meyakini strategi ini akan mendorong pertumbuhan ekonomi kuartal I di atas 5,5%, pelebaran defisit yang sangat dini telah meningkatkan kekhawatiran pasar dan lembaga pemeringkat terhadap disiplin fiskal Indonesia ke depannya, terutama jika tekanan eksternal terus berlanjut.
Disclaimer On: Tulisan ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham tertentu. Keputusan Investasi/Trading sepenuhnya ada di tangan pembaca. Saham Daily tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari Keputusan Investasi/Trading yang dilakukan oleh Pembaca.
Jika ingin berlangganan artikel karya Saham Daily edisi BULETIN dan CIRCULAR, klik link di bawah ini atau Whatsapp ke 085737186163
Langganan Saham Daily Services: Buletin, Circular, Database & Info Saham Terkini