Agresi Militer Amerika Serikat ke Venezuela

Agresi militer Amerika Serikat ke Venezuela pada awal Januari 2026—yang oleh Washington disebut sebagai Operasi “Southern Spear” (Lembing Selatan)—bukanlah peristiwa tunggal, melainkan puncak dari ketegangan yang terakumulasi selama bertahun-tahun.

Kronologi dan Target Serangan

Waktu Kejadian: Sabtu dini hari, 3 Januari 2026, sekitar pukul 02.00 waktu setempat.

Lokasi: Ledakan dilaporkan terjadi di ibu kota Caracas serta negara bagian Miranda, Aragua, dan La Guaira.

Target Utama: Fasilitas militer penting, termasuk Fuerte Tiuna (kompleks militer terbesar di Venezuela) dan pangkalan udara La Carlota. Asap tebal dan bola api dilaporkan terlihat di lokasi-lokasi tersebut.

Respons Pemerintah Venezuela

Keadaan Darurat: Presiden Nicolas Maduro telah resmi menandatangani dekret Keadaan Darurat Nasional (State of Emergency) dan menyerukan mobilisasi rakyat untuk melawan “agresi imperialis”.

Tuduhan: Pemerintah Venezuela menuduh AS melakukan agresi militer dengan tujuan utama menguasai sumber daya strategis negara, terutama minyak dan mineral.

​Berikut detail alasan di balik agresi militer tersebut, kita bagi menjadi empat pilar utama:

1. Geopolitik & “De-Dollarisasi” (Alasan Utama)

​Venezuela, dengan dukungan penuh dari blok BRICS (terutama Rusia dan China), secara agresif memimpin gerakan untuk meninggalkan Dollar AS dalam perdagangan minyak global.

Sistem Pembayaran Alternatif: Venezuela mulai menjual minyaknya menggunakan mata uang digital atau mata uang lokal (Yuan/Rubel), yang secara langsung mengancam dominasi Petrodollar.

Keamanan Nasional: Washington memandang langkah ini sebagai serangan ekonomi langsung terhadap nilai mata uang AS, sehingga intervensi militer dianggap perlu untuk “mengamankan sistem finansial global.”

2. Penguasaan Cadangan Energi Strategis

​Venezuela memiliki cadangan minyak mentah terbukti terbesar di dunia (lebih dari 300 miliar barel).  Serangan militer akan langsung memutus pasokan minyak dari kawasan tersebut.

Proyeksi Harga: Minyak mentah (Brent/WTI) diprediksi bisa melonjak 20%-30% dalam hitungan hari akibat kekhawatiran gangguan distribusi dan sanksi total.

Krisis Energi Barat: Di tengah ketidakpastian pasokan energi dari Timur Tengah akibat konflik regional lainnya, AS memerlukan akses langsung dan kendali atas cadangan minyak di belahan bumi Barat untuk menjamin keamanan energi domestiknya.

Blokade Infrastruktur: Serangan militer difokuskan pada penguasaan pelabuhan ekspor dan fasilitas penyulingan untuk menghentikan aliran minyak ke negara-negara yang menjadi rival strategis AS (seperti China).

3. Aliansi Militer Rusia & China di Benua Amerika

​Kehadiran militer asing di “halaman belakang” Amerika Serikat menjadi pemicu panas (trigger).

Pangkalan Militer: Intelijen AS mengklaim adanya pembangunan fasilitas pemantauan jarak jauh dan pangkalan logistik angkatan laut oleh Rusia dan China di wilayah pesisir Venezuela.

Doktrin Monroe: AS menghidupkan kembali Doktrin Monroe yang menyatakan bahwa campur tangan kekuatan asing di benua Amerika adalah ancaman langsung bagi keamanan Amerika Serikat.

4. Krisis Kemanusiaan & Alibi Demokrasi

​Sebagaimana pola intervensi sebelumnya, Washington menggunakan narasi moral sebagai pembenaran publik:

Pemulihan Demokrasi: AS menuduh pemerintahan Caracas melakukan pelanggaran HAM berat dan kecurangan pemilu yang sistematis.

Stabilisasi Regional: Lonjakan pengungsi Venezuela ke negara-negara tetangga (Kolombia, Brazil, hingga perbatasan AS) dijadikan alasan bahwa rezim saat ini telah menyebabkan instabilitas regional yang hanya bisa diselesaikan melalui pergantian kekuasaan secara paksa.

Dalam konteks agresi militer ini, tuntutan Donald Trump terhadap pemerintahan Venezuela bersifat sangat transaksional dan berfokus pada prinsip “America First”. Trump memberikan ultimatum yang jelas dengan beberapa poin tuntutan utama sebagai syarat penarikan pasukan:

1. Pengambilalihan Kendali Ladang Minyak

​Trump menuntut agar perusahaan-perusahaan energi AS (seperti Chevron dan ExxonMobil) diberikan kendali operasional penuh atas ladang minyak utama di sabuk Orinoco.

Tuntutan: Kompensasi atas utang-utang lama Venezuela melalui akses langsung ke minyak mentah sebagai pembayaran.

Tujuan: Menurunkan harga bahan bakar di AS secara drastis dengan membanjiri pasar menggunakan minyak Venezuela yang dikendalikan AS.

2. Penghentian Total Kerja Sama dengan Rusia dan China

​Ini adalah tuntutan geopolitik yang paling keras. Trump menuntut Venezuela untuk:

Mengusir Personel Militer: Menghapus semua kehadiran penasihat militer Rusia dan infrastruktur intelijen China dari tanah Venezuela.

Pembatalan Kontrak De-dollarisasi: Membatalkan semua perjanjian perdagangan minyak yang menggunakan mata uang non-Dollar.

3. Repatriasi Massal (Pemulangan Imigran)

​Trump menjadikan krisis Venezuela sebagai solusi untuk masalah domestiknya di perbatasan AS.

Tuntutan: Pemerintah Venezuela yang baru (atau yang sedang berkuasa) harus setuju untuk menerima kembali seluruh warga negaranya yang dideportasi dari Amerika Serikat tanpa terkecuali.

Keamanan Perbatasan: Venezuela harus bekerja sama dalam memutus jalur migrasi ilegal di Amerika Selatan.

4. Restitusi Aset Perusahaan AS

​Trump menuntut pengembalian atau ganti rugi penuh atas seluruh aset perusahaan Amerika yang pernah dinasionalisasi oleh pemerintahan sebelumnya (era Chavez dan Maduro).

 

Pernyataan resmi dari Moskow dan Beijing baru saja keluar sebagai respons terhadap Operasi “Southern Spear” Amerika Serikat. Situasi ini menunjukkan eskalasi yang sangat serius.

Berikut rangkuman reaksi dari kedua kekuatan besar tersebut:

1. Rusia: Ancaman “Tindakan Balasan Simetris”

​Kremlin mengeluarkan pernyataan keras melalui Kementerian Luar Negerinya:

Status Keamanan: Rusia menyebut agresi AS sebagai “pelanggaran kedaulatan hukum internasional yang tidak dapat dimaafkan.”

Bantuan Militer: Moskow mengonfirmasi bahwa mereka memiliki “instruktur militer” di Venezuela dan akan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk menjamin keamanan aset serta personel mereka.

Dampak ke Komoditas: Rusia mengancam akan membatasi ekspor gas dan logam mulia (termasuk Paladium dan Emas) ke negara-negara “tidak ramah”. Inilah alasan mengapa harga Emas dunia bertahan kokoh di US$4.300/oz.

2. China: “Garis Merah” Ekonomi dan Maritim

​Beijing mengambil pendekatan yang lebih fokus pada ekonomi namun tetap tegas secara militer:

Kecaman Diplomatik: China mendesak AS untuk segera menarik pasukan dan kembali ke meja perundingan melalui PBB.

Lindung Nilai Kontrak: China menyatakan akan melindungi seluruh aset energinya di Venezuela “dengan segala cara”.

Sentimen De-dollarisasi: China menyerukan percepatan penggunaan sistem pembayaran non-SWIFT, yang semakin menekan Indeks Dollar (DXY) dan membuat harga komoditas dalam Dollar menjadi semakin mahal.

lalu bagaimana dampaknya ke Pasar Modal di Indonesia (IHSG)? bisa dibaca di Buletin Saham Daily Volume 04, tanggal 03 Januari 2026. Untuk berlangganan buletin Saham Daily, bisa klik link di bawah ini atau whatsapp ke 085737186163

Langganan Database Sahamdaily & Info Saham Terkini

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *