Konsep Immiserizing Growth (pertumbuhan yang memiskinkan) adalah fenomena penting dalam ekonomi pembangunan. Istilah ini pertama kali dipopulerkan oleh ekonom Jagdish Bhagwati pada tahun 1958. Secara sederhana, ini adalah kondisi di mana pertumbuhan ekonomi (PDB riil meningkat) justru menyebabkan penurunan kesejahteraan rakyat secara keseluruhan – ditandai dengan meningkatnya kemiskinan absolut, menyusutnya kelas menengah, dan melebarnya ketimpangan.
Konsep Dasar
Dalam teori ekonomi konvensional, pertumbuhan PDB diharapkan menciptakan efek trickle-down (menetes ke bawah) sehingga mengurangi kemiskinan. Namun, immiserizing growth adalah penyimpangan di mana peningkatan output nasional ternyata menyebabkan:
· Daya beli riil masyarakat menurun.
· Tingkat kemiskinan meningkat (baik jumlah maupun kedalaman).
· Kelas menengah tergerus ke bawah (downgrading).
Immiserizing growth biasanya terjadi pada negara berkembang yang sangat tergantung pada ekspor komoditas primer (minyak, gas, batu bara, sawit, tambang) dengan struktur ekonomi yang timpang. Mekanismenya:
1. Boom Komoditas & Dutch Disease
· Harga komoditas global naik tajam → ekspor melonjak → PDB meningkat.
· Ekspor komoditas mendorong apresiasi mata uang (menguat).
· Akibatnya, sektor non-komoditas (manufaktur, pertanian rakyat, pariwisata) menjadi tidak kompetitif, gulung tikar, dan PHK massal.
2. Konsentrasi Kepemilikan
· Keuntungan dari komoditas hanya dinikmati oleh segelintir pemilik modal (konglomerat, perusahaan asing, atau elite politik).
· Pendapatan tidak menyebar ke masyarakat luas.
3. Inflasi Biaya Hidup
· Pertumbuhan sektor komoditas mendorong inflasi (terutama pangan, perumahan, transportasi) karena meningkatnya daya beli segelintir orang dan tekanan biaya logistik.
· Kelas menengah dan miskin yang bergantung pada upah riil tergerus inflasi.
4. Deindustrialisasi Prematur
· Sumber daya dan kredit tersedot ke sektor komoditas.
· Industri pengolahan (yang padat karya) tidak berkembang atau malah menyusut.
· Akibatnya, lapangan kerja formal berkualitas berkurang, digantikan sektor informal berupah rendah.
Contoh Kasus
a. Nigeria (minyak, 1970-an – 2000-an)
· PDB Nigeria melonjak setelah penemuan minyak.
· Namun, kemiskinan meningkat dari 27% (1980) menjadi 70% (2000). Industri tekstil dan pertanian runtuh. Kelas menengah yang mulai tumbuh di tahun 1960-an lenyap.
b. Venezuela (1990-an – 2010-an)
· Saat harga minyak tinggi, PDB per kapita sempat mencapai puncak.
· Namun, karena ketergantungan pada impor dan deindustrialisasi, begitu harga minyak turun, negara kolaps. Kemiskinan melonjak dari 30% (2010) menjadi 90%+ (2020). Kelas menengah hancur.
c. Beberapa daerah penghasil tambang di Indonesia (timah, batu bara)
· Saat harga komoditas tinggi (2010–2012, lalu 2021–2022), PDB daerah naik.
· Namun, biaya hidup naik drastis (sewa rumah, kebutuhan pokok), sementara penduduk lokal yang tidak bekerja di tambang justru kehilangan akses lahan dan mata pencaharian. Angka kemiskinan di beberapa kabupaten tambang justru stagnan atau naik.
Gejala di Tingkat Rumah Tangga & Masyarakat
· Upah riil (setelah inflasi) stagnan atau turun, meskipun PDB per kapita naik.
· Pekerja sektor formal beralih ke pekerjaan informal (ojek online, buruh lepas) dengan pendapatan lebih rendah.
· Rumah tangga kelas menengah mulai berutang untuk konsumsi sehari-hari atau menjual aset (seperti tanah warisan).
· Tingkat tabungan nasional rendah karena mayoritas pendapatan habis untuk kebutuhan pokok.
Perbedaan dengan Resesi atau Krisis
PDB: Resesi / Krisis => Turun, Immiserizing Growth=> Naik (atau tumbuh positif)
Kemiskinan: Resesi / Krisis =>Naik, Immiserizing Growth=> Naik
Kelas menengah: Resesi / Krisis => Menyusut, Immiserizing Growth=> Menyusut
Penyebab: Resesi / Krisis => Guncangan negatif (demand atau supply), Immiserizing Growth=>Distorsi struktur ekonomi, ketergantungan komoditas
Mengapa Ini Berbahaya bagi Stabilitas Jangka Panjang?
· Ketidakpercayaan terhadap sistem ekonomi dan pemerintah → gejolak sosial, populisme, hingga konflik.
· Investasi asing dan domestik enggan masuk karena pasar domestik lemah (daya beli rendah).
· Modal manusia menurun karena kesehatan dan pendidikan terkorbankan.
· Lingkaran setan: PDB tumbuh berkat komoditas → komoditas habis atau harga turun → negara jatuh miskin tanpa fondasi industri.
Dalam banyak kasus, immiserizing growth menyebabkan jobless growth dan skidding middle class secara bersamaan:
1. Boom komoditas → apresiasi mata uang → sektor manufaktur (padat karya) tidak kompetitif → PHK massal → jobless growth.
2. Keuntungan komoditas hanya dinikmati segelintir orang → inflasi bahan pokok → daya beli kelas menengah tergerus → mereka terpeleset ke kelas bawah (skidding middle class).
3. Hilangnya kelas menengah → permintaan domestik lesu → pengusaha tidak mau investasi di sektor padat karya → semakin memperparah jobless growth.
4. Semua efek berujung pada peningkatan kemiskinan absolut meskipun PDB tetap tumbuh (itu immiserizing growth).
Jadi, ketiganya adalah muka yang berbeda dari penyakit struktural yang sama: ketergantungan pada komoditas, deindustrialisasi prematur, dan ketidakmampuan menciptakan lapangan kerja berkualitas.
Cara Mengatasinya (Kebijakan)
Agar pertumbuhan PDB tidak memiskinkan, pemerintah harus melakukan:
1. Diversifikasi ekonomi – mengurangi ketergantungan pada komoditas, membangun manufaktur dan jasa padat karya.
2. Pajak progresif & transfer tunai – menarik keuntungan dari sektor komoditas untuk subsidi pangan, pendidikan, dan kesehatan rakyat.
3. Pengendalian inflasi – terutama harga bahan pokok (beras, minyak goreng, dll) melalui operasi pasar dan subsidi tepat sasaran.
4. Investasi SDM – gratis/dana pendidikan dan pelatihan vokasi agar tenaga kerja bisa bekerja di sektor non-komoditas.
5. Stabilisasi nilai tukar – mencegah apresiasi berlebihan melalui intervensi pasar dan pengelolaan cadangan devisa.
6. Reformasi tata kelola sumber daya alam – memastikan pendapatan komoditas masuk ke kas negara dan diawasi, bukan dinikmati segelintir orang.
Kesimpulan
Immiserizing growth adalah fenomena nyata yang terjadi di banyak negara kaya sumber daya alam. Indikatornya: PDB naik, tetapi rakyat miskin kian bertambah dan kelas menengah menghilang. Ini mengingatkan bahwa PDB bukanlah segalanya. Ukuran keberhasilan pembangunan seharusnya mencakup distribusi pendapatan, tingkat kemiskinan, dan kesehatan kelas menengah.
Jika ingin berlangganan artikel karya Saham Daily edisi BULETIN dan CIRCULAR, klik link di bawah ini atau Whatsapp ke 085737186163
Langganan Saham Daily Services: Buletin, Circular, Database & Info Saham Terkini