Hubungan antara yield US Treasury (UST) 10 tahun dan sikap politik Presiden Trump dalam perundingan dengan Iran adalah cerminan langsung dari mekanisme pasar yang sensitif terhadap geopolitik. Pada intinya, hubungan ini terlihat dari pola yang cukup konsisten: ketika ketegangan meningkat, yield UST 10 tahun cenderung naik, dan ketika peluang perdamaian terbuka, yield-nya pun turun.
Penyebab paling langsung dari fluktuasi yield adalah aksi harga minyak mentah. Konflik di Timur Tengah, terutama yang melibatkan Selat Hormuz, selalu memicu kekhawatiran pasokan. Saat Presiden Trump mengancam akan memblokade selat tersebut, harga minyak (dan ekspektasi inflasi) langsung melonjak. Dampak ke Ekspektasi Inflasi & Suku Bunga The Fed. Pasar menggunakan yield UST 10 tahun untuk mengukur arah suku bunga The Fed. Kenaikan harga energi mendorong inflasi lebih tinggi, sehingga memaksa The Fed untuk mempertahankan suku bunga acuan lebih tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama. Kekhawatiran ini mendorong yield obligasi naik secara signifikan.
Sebaliknya, setiap kali ada sinyal positif (Trump “melunak”), seperti gencatan senjata atau pembicaraan substantif, pasar merespon positif. Imbal hasil (yield) UST 10 tahun langsung turun karena kekhawatiran terhadap lonjakan inflasi mereda dan prospek penurunan suku bunga oleh The Fed kembali terbuka.
Sinyal ini bahkan muncul secara spesifik di level 4.3%. Saat negosiasi gagal, yield UST 10 tahun naik ke atas level psikologis 4,3%, termasuk mencapai 4,374%. Sebaliknya, setelah Trump membuka peluang damai, yield langsung turun ke level yang sama, 4,30%.
Bukti Empiris dalam Data
Ketika Negosiasi Macet (Yield Naik):
· 14 April 2026: Setelah pembicaraan akhir pekan gagal dan Trump mengancam blokade, imbal hasil UST 10 tahun sempat menyentuh 4,36% di awal sesi dan ditutup di 4,30%.
· 13 April 2026: Akibat kenaikan inflasi dan kegagalan pembicaraan, imbal hasil melonjak ke 4,35%. Menjelang akhir April, imbal hasil terus berfluktuasi di level ini, seperti pada 4,374%, yang menunjukkan sensitivitas pasar.
· 24 April 2026: Stagnasi negosiasi terus menjaga imbal hasil di level tinggi, berada di sekitar 4,33%.
Ketika Peluang Damai Terbuka (Yield Turun):
· 23 Maret 2026: Trump menyebut pembicaraan dengan Iran “produktif”, imbal hasil UST 10 tahun langsung turun ke 4,331%, bahkan sempat anjlok ke sekitar 4,32%.
· 6-7 Mei 2026: Saat Trump mengumumkan penghentian sementara operasi militer di Selat Hormuz, imbal hasil turun ke 4,354%. Setelah Axios memberitakan potensi kesepakatan, imbal hasil kembali turun ke 4,34%.
· 6 Mei 2026: Trump menyebut ada kemajuan dan kesepakatan “sangat mungkin”, imbal hasil UST 10 tahun turun sekitar 5 basis poin ke 4,38%.
Kesimpulan
Narasi bahwa setiap kali yield UST 10 tahun di atas 4,3%, Trump melunak dalam negosiasi dengan Iran bukanlah sebuah kebetulan. Hubungan ini didorong oleh logika pasar yang kuat: ketegangan → harga minyak naik → inflasi tinggi → The Fed tak kunjung turunkan suku bunga → yield UST 10 tahun naik (di atas 4,3%). Pasar kemudian “memberi sinyal” dan Trump meresponnya dengan bersikap lebih lunak untuk mencoba meredakan ketegangan dan menstabilkan pasar, terutama saat yield mendekati level yang secara politis terasa tidak nyaman.
Disclaimer On: Tulisan ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham tertentu. Keputusan Investasi/Trading sepenuhnya ada di tangan pembaca. Saham Daily tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari Keputusan Investasi/Trading yang dilakukan oleh Pembaca.
Jika ingin berlangganan artikel karya Saham Daily edisi BULETIN dan CIRCULAR, klik link di bawah ini atau Whatsapp ke 085737186163
Langganan Saham Daily Services: Buletin, Circular, Database & Info Saham Terkini