Fenomena “SBN ditinggal asing” merujuk pada aksi jual besar-besaran (capital outflow) investor asing di pasar Surat Berharga Negara (SBN) Indonesia sepanjang 2026. Hingga awal Mei 2026, kepemilikan asing tercatat tinggal 12,75% dari total SBN yang beredar, turun dari 14,36% pada periode yang sama tahun lalu.
Faktor-faktor utama pemicu, dampak, dan dinamika fenomena ini:
1. Faktor Global: Gejolak Eksternal yang Meningkatkan Risiko
Investor global sedang dalam mode risk aversion (menghindari risiko). Mereka menarik dananya dari negara berkembang (termasuk Indonesia) karena ketegangan global konflik Iran-AS dan ketidakpastian arah suku bunga AS membuat aset aman seperti US Treasury lebih menarik. Dolar yang menguat memperburuk return investasi di negara dengan mata uang yang melemah.
2. Faktor Domestik: Persepsi Risiko Fiskal yang Meningkat
Dari dalam negeri, investor asing khawatir terhadap:
Pelebaran Defisit APBN: Hingga kuartal I 2026, defisit APBN melebar signifikan menjadi Rp 240,1 triliun (0,93% dari PDB), naik tajam dari pada periode yang sama tahun sebelumnya. Lonjakan ini memicu kekhawatiran investor terhadap “tata kelola fiskal” jangka panjang.
Pelemahan Rupiah: Imbal hasil SBN menjadi tidak menarik jika dihitung dalam Dolar AS setelah memperhitungkan pelemahan nilai tukar.
Risiko Premi (CDS): Premi Credit Default Swaps (CDS) Indonesia naik, menandakan persepsi risiko gagal bayar yang lebih tinggi.
3. Dampak terhadap Pasar Keuangan
Yield (Imbal Hasil) Melonjak: Harga obligasi turun (karena dijual), sehingga yield naik. SBN tenor 10 tahun sempat menyentuh kisaran 6,8%-6,9%.
Biaya Utang Pemerintah Membengkak: Untuk menarik investor di tengah risiko tinggi, pemerintah harus membayar kupon yang lebih besar. Ini menjadi “batu sandungan” bagi pembiayaan APBN.
Pergeseran ke SRBI: Menariknya, outflow ini juga didorong preferensi investor asing yang beralih ke instrumen SRBI (Sekuritas Rupiah Bank Indonesia) yang menawarkan imbal hasil kompetitif dengan tenor pendek.
4. Sisi Lain: Relokasi, Bukan Hilang Kepercayaan Sepenuhnya
Meski ada tekanan, fenomena ini tidak sepenuhnya negatif:
Pasar Masih Likuid: Outflow terbesar terjadi pada Maret (Rp 11,6 triliun), namun memasuki April, permintaan lelang SBN mulai menguat kembali, ditandai dengan meningkatnya partisipasi asing dalam lelang.
Peran Domestik: Kekosongan yang ditinggalkan asing mulai diisi oleh investor dalam negeri, seperti perbankan, asuransi, dan Bank Indonesia.
Yield Masih Kompetitif: Dibandingkan negara berkembang lain seperti India (6,96%) atau Filipina (6,92%), yield SBN Indonesia di kisaran 6,8% dinilai masih menarik secara global.
Disclaimer On: Tulisan ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham tertentu. Keputusan Investasi/Trading sepenuhnya ada di tangan pembaca. Saham Daily tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari Keputusan Investasi/Trading yang dilakukan oleh Pembaca.
Jika ingin berlangganan artikel karya Saham Daily edisi BULETIN dan CIRCULAR, klik link di bawah ini atau Whatsapp ke 085737186163
Langganan Saham Daily Services: Buletin, Circular, Database & Info Saham Terkini