Kenaikan yield SBN 10 tahun dan CDS dalam beberapa pekan terakhir terutama didorong oleh faktor eksternal (global) yang menyebabkan rupiah melemah, serta adanya kekhawatiran terhadap kondisi fiskal dalam negeri. Pergerakan kedua indikator ini umumnya berhubungan erat karena mencerminkan risiko yang serupa.
Hubungan Yield SBN dan CDS
Yield SBN adalah imbal hasil yang diminta investor untuk memegang obligasi pemerintah, mencerminkan risiko dan ekspektasi inflasi. Credit Default Swap (CDS) adalah premi asuransi yang harus dibayar untuk melindungi diri dari risiko gagal bayar suatu negara.
Secara teori, keduanya bergerak searah: persepsi risiko yang naik (CDS naik) akan membuat investor meminta imbal hasil lebih tinggi (yield naik).
· Yield SBN 10 Tahun: 6.04% (Awal Jan 2026) → 6.37% (26 Jan 2026)
· CDS SBN 10 Tahun: 117.25 (Awal Jan 2026) → 120.87 (Awal Pekan 26 Jan)
Penyebab Utama Kenaikan di Januari 2026
1. Ketegangan Geopolitik Global
Ketegangan seperti AS-Venezuela dan rencana kenaikan tarif AS meningkatkan ketidakpastian global. Kondisi ini mendorong modal asing keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, melemahkan Rupiah mendekati Rp 17.000/USD. Investor meminta “risk premium” yang lebih tinggi untuk mengompensasi risiko nilai tukar ini, sehingga mendorong yield naik.
2. Kekhawatiran Kondisi Fiskal
Realisasi defisit APBN 2025 sebesar 2.92% dari PDB dianggap sangat tipis di bawah batas mandatori 3%.
Terdapat shortfall penerimaan pajak Rp 271,7 triliun dari target APBN 2025. Hal ini memicu kekhawatiran mengenai beban utang dan risiko fiskal, tercermin pada kenaikan CDS.
3. Aksi Jual Investor Asing
Risiko global dan fiskal menyebabkan aksi jual bersih (net sell) oleh investor asing di pasar SBN. Ketika penjualan meningkat, harga SBN turun dan yield otomatis naik.
Counterbalance dan Prospek
Meski ada tekanan, terdapat faktor penopang yang mencegah kenaikan yield lebih dalam:
Likuiditas Domestik: Bank, dana pensiun, dan asuransi lokal aktif membeli SBN yang dijual asing.
Peran Bank Indonesia (BI): Analis memperkirakan BI akan melanjutkan pembelian SBN di pasar sekunder dalam skala besar (sekitar Rp 150 triliun – 200 triliun) pada 2026 guna menstabilkan pasar dan mendukung transmisi kebijakan moneter.
Prospek Suku Bunga: Peluang penurunan suku bunga BI di akhir tahun dapat memberikan ruang bagi penurunan yield ke depan.
Intinya kenaikan yield dan CDS ini adalah sinyal tekanan pasar jangka pendek akibat ketidakpastian global dan kekhawatiran fiskal, namun struktur pasar keuangan domestik dinilai masih resilien.
Jika ingin berlangganan artikel karya Saham Daily edisi BULETIN dan CIRCULAR, klik link di bawah ini atau Whatsapp ke 085737186163
Langganan Saham Daily Services: Buletin, Circular, Database & Info Saham Terkini