Aksi Jual neto Investor Asing Rp 5,96 Triliun di Pekan ketiga Januari 2026

IHSG memang berhasil capai rekor tertinggi baru pada 19 Januari, namun arus modal berubah menjadi negatif di pekan yang sama. Berikut rincian terkait aksi jual neto investor asing senilai Rp 5,96 triliun di pasar saham, SBN (Surat Berharga Negara), dan SRBI (Sekuritas Rupiah Bank Indonesia) yang terjadi pada 19-22 Januari 2026 .

Rincian Aksi Jual Neto per Pasar

Berikut pembagian dari total modal keluar Rp 5,96 triliun:

· Pasar Saham: Rp 2,67 triliun
· Surat Berharga Negara (SBN): Rp 1,44 triliun
· Sekuritas Rupiah BI (SRBI): Rp 1,85 triliun

Dampak & Konteks Lebih Luas

Aksi jual ini memberikan dampak pada beberapa indikator pasar dan perlu dilihat dalam konteks yang lebih luas.

Dampak Langsung pada Pasar

1. IHSG & Kapitalisasi Pasar: IHSG turun 1,37% dalam sepekan, menutup di level 8.951 . Kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia juga menyusut 1,62% menjadi Rp 16.244 triliun .
2. Premi Risiko (CDS): Premi Credit Default Swap (CDS) Indonesia tenor 5 tahun naik dari 70,86 menjadi 73,28 basis poin, mengindikasikan peningkatan persepsi risiko terhadap Indonesia di mata investor global .
3. Nilai Tukar & Imbal Hasil: Rupiah sedikit melemah ke level Rp 16.880/USD, namun sempat menguat keesokan harinya . Imbal hasil (yield) SBN tenor 10 tahun naik ke level 6,32% .

Konteks Kumulatif Awal Tahun 2026
Meski terjadi aksi jual di pekan ketiga, secara kumulatif sejak awal 2026 hingga 22 Januari, posisi modal asing masih neto masuk ke instrumen yang berisiko lebih tinggi :

· Pasar Saham: Beli Neto Rp 8,02 triliun
· Pasar SBN: Beli Neto Rp 1,89 triliun
· Pasar SRBI: Jual Neto Rp 2,67 triliun

Fakta ini menunjukkan bahwa aksi jual pekan ketiga kemungkinan merupakan realisasi keuntungan setelah kenaikan pasar, atau respons jangka pendek terhadap dinamika global dan domestik .

Bank Indonesia menyatakan bahwa arus keluar ini mencerminkan kehati-hatian investor global di tengah volatilitas pasar internasional yang tinggi . Sebagai respons, BI menegaskan akan terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan mengoptimalkan bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas pasar keuangan dan ketahanan eksternal ekonomi Indonesia . Secara keseluruhan, meski terjadi koreksi di pekan ketiga, sentimen fundamental investor asing terhadap aset Indonesia untuk jangka menengah-panjang masih terjaga, ditunjukkan oleh posisi beli neto kumulatif yang positif .

Sentimen domestik yang hati-hati serta kondisi pasar yang lebih teknis

Berikut ini  faktor-faktor domestik utama yang diduga menjadi pemicunya:

Faktor Kebijakan Moneter dan Kehati-hatian

Penahanan Suku Bunga BI: Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan (BI Rate) di level 4.75%. Kebijakan ini, di tengah penurunan suku bunga The Fed, mendorong investor menunggu kepastian lebih lanjut dari sentimen makroekonomi domestik sebelum mengambil aksi.
Pelemahan Rupiah: Rupiah yang terus melemah dan mendekati level Rp 16.800 per dolar AS menjadi faktor penahan bagi investor asing, karena meningkatkan biaya investasi dan risiko nilai tukar.

Kondisi Pasar dan Sentimen Investor

Koreksi Teknis (Aksi Ambil Untung): IHSG telah mencapai rekor tertinggi baru di atas 9.000. Pasar memasuki fase distribusi, di mana banyak investor mengambil keuntungan (profit taking) dari kenaikan harga yang signifikan dalam beberapa bulan terakhir, terutama di saham-saham unggulan.
Strategi Investasi Selektif: Meski terjadi jual bersih di pasar SBN, investor asing secara khusus masih melakukan pembelian bersih di pasar saham pada pekan sebelumnya. Ini menunjukkan mereka sedang memilah dan memindahkan portofolio alih-alih keluar total dari Indonesia.
Kekuatan Investor Domestik: Menurut BEI, struktur pasar modal Indonesia kini lebih tahan terhadap aksi jual asing karena didukung oleh kematangan dan peran dominan investor domestik (ritel dan institusi) yang menyerap tekanan jual.

Faktor-faktor ini saling terkait dan menunjukkan bahwa aksi jual pekan ketiga Januari lebih cenderung koreksi jangka pendek dan kehati-hatian sementara ketimbang perubahan sentimen fundamental terhadap prospek ekonomi Indonesia dalam jangka panjang.

Selain isu domestik, aksi jual asing pekan ketiga Januari 2026 juga dipicu oleh ketidakpastian global, terutama terkait sentimen risiko global yang meningkat dan pergerakan imbal hasil (yield) obligasi AS.

Untuk memahami perbedaannya, berikut ringkasan dua faktor global utama.

Faktor 1: Sentimen Risiko Global (Risk-Off Sentiment)

Inti Pengaruh: Investor global menghindari aset berisiko, termasuk di pasar negara berkembang, dan beralih ke aset aman (safe haven).
emicu Global:
· Kebijakan Tarif Trump: Rencana AS mengena tarif impor terhadap negara-negara Eropa menambah ketidakpastian perdagangan global.
· Ketegangan Geopolitik: Konflik di Ukraina, Timur Tengah, dan ketegangan China-Taiwan meningkatkan kehati-hatian investor.
· Dampak di Indonesia: Modal global berpindah dari aset berisiko ke aset aman seperti dolar AS dan emas. Hal ini ikut mendorong investor asing mengambil keuntungan (profit taking) dari pasar Indonesia.

Faktor 2: Dinamika Imbal Hasil Obligasi AS

Inti Pengaruh: Kenaikan imbal hasil obligasi AS membuat investasi di aset negara berkembang, termasuk Indonesia, relatif kurang menarik.
Pemicu Global: Aksi jual yang mendorong yield obligasi AS naik (misal, dari 4.13% menjadi 4.25%). Hal ini bisa dipicu oleh berbagai ekspektasi ekonomi di AS.
Dampak di Indonesia: Investor membandingkan imbal hasil. Ketika yield obligasi AS naik, yield obligasi Indonesia (SBN) yang tidak naik signifikan menjadi kurang kompetitif, memicu penjualan.

Interaksi Global-Domestik dan Peluang

Faktor global ini berinteraksi dengan isu domestik (seperti kekhawatiran independensi BI) dan memperburuk tekanan pada rupiah dan pasar SBN. Kondisi ini membuat pasar saham domestik terlihat lebih atraktif dibanding obligasi bagi dana asing pada awal 2026.

Meski menciptakan volatilitas, masih ada peluang dalam kondisi ini:

1. Investor Selektif: Saham dengan fundamental kuat di sektor komoditas (seperti tambang nikel), kesehatan, atau yang diuntungkan program pemerintah berpotensi lebih tangguh.
2. Diversifikasi: Fokus pada sektor defensif (kebutuhan pokok, kesehatan) atau hedging dengan emas dapat mengurangi risiko portofolio.
3. Perspektif Jangka Panjang: Banyak analis optimis IHSG tetap akan bergerak menguat dalam tren jangka panjang, didukung fundamental ekonomi dan emiten.

Disclaimer On: Tulisan ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham tertentu. Keputusan Investasi/Trading sepenuhnya ada di tangan pembaca. Saham Daily tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari Keputusan Investasi/Trading yang dilakukan oleh Pembaca.

Jika ingin berlangganan artikel karya Saham Daily edisi BULETIN dan CIRCULAR, klik link di bawah ini atau Whatsapp ke 085737186163

Langganan Saham Daily Services: Buletin, Circular, Database & Info Saham Terkini

 

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *