Kemungkinan Rio Tinto & Glencore akan merger

Rio Tinto dan Glencore telah mengkonfirmasi pada 8-12 Januari 2026 bahwa mereka sedang dalam “diskusi awal” mengenai kemungkinan penggabungan sebagian atau seluruh bisnis mereka, yang bisa menjadi transaksi terbesar dalam sejarah industri pertambangan. Jika merger berhasil, ini akan melahirkan perusahaan tambang terbesar di dunia melampaui BHP.

Berikut ringkasan detail kunci dari rencana tersebut:

Status Proposal: Diskusi awal; belum ada penawaran resmi.
Struktur Potensial: Merger semua-saham dengan akuisisi Glencore oleh Rio Tinto.
Batas Waktu: Rio Tinto harus mengumumkan niat pasti menawar sebelum 5 Februari 2026 (18:00 WIB).
Estimasi Nilai: USD 204 miliar – 260 miliar (membentuk perusahaan tambang terbesar di dunia).

Latar Belakang Perbincangan Merger

Perbincangan merger ini bukan yang pertama kali. Pembicaraan sebelumnya pada 2024 gagal karena perbedaan terkait valuasi, kepemimpinan, dan bisnis batu bara Glencore. Latar belakang  yang mendorong pembicaraan kali ini adalah keinginan untuk:

Mendominasi Pasar Tembaga: Glencore memiliki aset tembaga raksasa di Chile dan Kongo, sementara Rio Tinto memiliki proyek Oyu Tolgoi di Mongolia. Gabungan keduanya akan menjadikan mereka penguasa pasokan tembaga dunia, yang sangat dibutuhkan untuk kabel EV, infrastruktur energi bersih, dan data center AI.
Menciptakan Raksasa Diversifikasi: Rio Tinto adalah produsen (miner) murni, sedangkan Glencore memiliki divisi perdagangan (trading) dan logistik terkuat di dunia. Rio Tinto ingin mengurangi ketergantungan pada bijih besi (yang pasarnya mulai melandai di China) dengan mengambil aset Nikel, Seng, dan Kobalt milik Glencore yang saat ini tidak dimiliki oleh Rio Tinto. Penggabungan ini akan menciptakan perusahaan yang mengontrol mineral dari perut bumi hingga pengiriman ke tangan konsumen akhir.

Memperoleh Pertumbuhan Melalui Akuisisi: Di tengah harga tembaga yang tinggi, “membeli” aset melalui merger dianggap lebih cepat dan efisien daripada “membangun” tambang baru.

Struktur Kepemimpinan
​Rio Tinto sebagai Pengakuisisi: Mengingat kapitalisasi pasar Rio Tinto (~USD 162 miliar) lebih besar daripada Glencore, skema yang dibahas adalah pembelian saham Glencore oleh Rio Tinto melalui skema pengaturan pengadilan (scheme of arrangement).

Tantangan dan Hambatan:

Untuk bisa terwujud, merger ini harus melewati sejumlah rintangan yang signifikan:

Batu Bara (ESG vs Keuangan): Rio Tinto keluar dari bisnis batu bara pada 2018, sementara Glencore adalah produsen batu bara termal terbesar di dunia. Pendekatan Rio terhadap aset batu bara Glencore kini mungkin lebih fleksibel karena konteks politik global baru dan profitabilitas batu bara yang bertahan. Salah satu hambatan besar adalah unit batu bara Glencore yang sangat menguntungkan namun “kotor” secara ESG. Ada spekulasi bahwa unit ini mungkin harus dipisahkan (spin-off) agar entitas baru bisa mempertahankan rating investasi hijau.
Valuasi dan Struktur Deal: Glencore disebut menginginkan premi sekitar 30%, sementara Rio Tinto ingin premi minimal atau nol. Kesepakatan perlu dicapai di antara kedua posisi ini, dengan struktur khusus seperti dividen.
Persetujuan Regulator Global: Ini adalah hambatan terbesar karena gabungan pasar tembaga dan aluminium yang sangat besar akan diawasi ketat oleh regulator di berbagai yurisdiksi, terutama China (SAMR), Australia (ACCC), dan Uni Eropa. Persetujuan mungkin mensyaratkan penjualan aset-aset tertentu, yang bisa menjadi “pembunuh kesepakatan” jika terlalu banyak.

Dampak Potensial pada Pasar Komoditas

Penggabungan akan menciptakan entitas dengan portofolio komoditas yang sangat luas. Berikut dampak potensialnya:

Tembaga: Produsen Terbesar Global (~7% pasokan)
Aluminium: Produsen besar, kombinasi aset Rio Tinto dan jaringan perdagangan Glencore
Biji Besi: Produsen terbesar global (~20% perdagangan laut)
Batu Bara: Warisi posisi Glencore sebagai produsen terbesar
Litium & Baterai: Menguatkan posisi Rio Tinto pasca akuisisi Arcadium Lithium

Timeline dan Langkah Selanjutnya

Semuanya bergantung pada keputusan Rio Tinto sebelum tenggat waktu 5 Februari 2026. Jika mereka mengumumkan niat menawar, proses persetujuan regulator yang panjang (mungkin 12-18 bulan) akan dimulai.

Dampak Pasar Global dan Tren Konsolidasi

Persaingan dan Harga Komoditas: Merger akan menciptakan raksasa tambang terbesar di dunia dengan nilai gabungan diperkirakan mencapai USD 204 miliar – 260 miliar, sekaligus menjadi produsen tembaga terbesar. Posisi dominan ini bisa memberi pengaruh lebih besar terhadap pasokan dan harga tembaga global.

Balasan dari Pesaing: Raksasa tambang lain seperti BHP Group, saat ini pemimpin pasar, mungkin terdorong melakukan aksi korporasi serupa atau bahkan mengajukan tawaran tandingan untuk Glencore guna mempertahankan posisi.
Dorongan terhadap Tembaga: Merger ini adalah bukti nyata betapa strategisnya komoditas tembaga. Merger ini didorong oleh proyeksi lonjakan permintaan untuk transisi energi dan teknologi AI, sementara pasokan diperkirakan akan defisit.

​Hambatan Regulator: Pemerintah China (sebagai konsumen terbesar) kemungkinan besar akan mencoba menghalangi atau memberikan syarat berat bagi merger ini karena khawatir akan monopoli harga komoditas.

Reaksi Pasar Awal: Kabar ini direspons berbeda oleh pasar. Saham Glencore naik signifikan (6%-8,8%), sementara saham Rio Tinto turun (2,4%-6,3%) karena kekhawatiran Rio akan membayar terlalu mahal (overpay).

Jika ingin mendapatkan artikel karya Saham Daily edisi BULETIN dan CIRCULAR, untuk berlangganan BULETIN dan CIRCULAR Saham Daily, dengan cara berlangganan klik link di bawah ini atau Whatsapp ke 085737186163

Langganan Saham Daily Services: Buletin, Circular, Database & Info Saham Terkini

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *