Fokus PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) pada sektor Energi Baru Terbarukan (EBT) adalah bagian dari strategi besar perusahaan untuk bertransformasi menjadi perusahaan energi terintegrasi yang lebih ramah lingkungan, sejalan dengan komitmen Indonesia menuju Net Zero Emission 2060.
Inisiatif EBT ini dijalankan melalui anak perusahaan, PT Adaro Clean Energy Indonesia (ACEI).
Berikut adalah detail fokus ADRO pada proyek Hidro (Air), Solar (Surya), dan proyek EBT lainnya:
1. Proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA/Hydro)
Proyek PLTA merupakan inisiatif EBT terbesar dan paling ambisius dari Adaro, yang ditujukan untuk memasok energi bersih bagi industri hilirisasi mineral (khususnya smelter aluminium) yang juga sedang dikembangkan Grup Adaro.

2. Proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS/Solar)
Fokus proyek surya ADRO mencakup pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) baik di darat, atap, maupun terapung, yang melayani kebutuhan internal (captive market) maupun jaringan publik.
A. Proyek PLTS Utility-Scale (PLTB & BESS)
ADRO berkolaborasi dalam pembangunan pembangkit listrik skala besar untuk memasok jaringan PLN.

B. Proyek PLTS Internal (Captive Market)
ADRO juga memasang PLTS untuk memenuhi kebutuhan energi di area operasional pertambangannya, yang berfungsi menggantikan penggunaan bahan bakar solar.
PLTS Terapung (Floating PV): Telah mengoperasikan PLTS Terapung di Kelanis (Kalimantan Tengah) dengan kapasitas sekitar 468 kWp (salah satu PV apung operasional terbesar di Indonesia), dan sedang mempertimbangkan penambahan kapasitas hingga 7 MW.
PLTS Captive Lainnya: Total kapasitas PLTS captive yang baru beroperasi sekitar ~600 kWp (termasuk rooftop 130 kWp) yang diharapkan dapat menggantikan sekitar 33.000 liter bahan bakar solar per tahun.
3. Fokus Bisnis dan Transformasi Lainnya
Transisi energi ADRO tidak hanya terbatas pada Hidro dan Solar, tetapi juga didukung oleh pengembangan bisnis mineral dan aluminium.

Intinya, strategi ADRO dalam EBT adalah bertahap dan terintegrasi: menggunakan pendapatan dari bisnis batu bara yang ada untuk mendanai investasi besar pada PLTA skala jumbo dan PLTS, yang kemudian akan menjadi sumber energi utama untuk proyek-proyek mineral (khususnya aluminium) di masa depan, sehingga menciptakan portofolio bisnis yang lebih hijau dan seimbang.
Strategi Bisnis dan Prospek Perusahaan
Meskipun menghadapi tantangan dari penurunan harga batu bara, ADRO aktif melakukan transformasi bisnis untuk prospek jangka panjang:
Fokus pada Diversifikasi dan Energi Baru Terbarukan (EBT): ADRO menegaskan komitmennya untuk transisi energi menuju net zero emission 2060, dengan fokus pada tiga pilar bisnis ke depan:
Batu Bara: Produksi tetap solid.
Mineral dan Aluminium: Menggarap sektor mineral, termasuk melalui anak usaha PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR) yang menargetkan produksi batu bara metalurgi dan fokus pada proyek smelter aluminium berbasis hidro berkapasitas 500 ribu ton.
Energi Hijau (Adaro Green Energy): Masuk besar-besaran ke proyek hidro, solar, dan energi terbarukan lainnya (pipeline EBT sebesar 1,3 GW).
Saham ADRO saat ini berada dalam periode transisi yang ditandai dengan tekanan pada kinerja laba akibat pelemahan harga batu bara dan dampak spin-off anak usaha. Namun, perusahaan secara fundamental masih sehat dan didukung oleh komitmen transformasi jangka panjang ke bisnis mineral, aluminium, dan energi terbarukan, serta valuasi yang menarik.
Jika Anda ingin berlangganan Database Saham Daily dan mendapatkan Info Saham Terkini, klik link di bawah ini:
No HP Admin Sahamdaily : 085737186163. Website: www.sahamdaily.com
Disclaimer On: Tulisan ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham tertentu. Keputusan Investasi/Trading sepenuhnya ada di tangan pembaca. Sahamdaily tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari Keputusan Investasi/Trading yang dilakukan oleh Pembaca.