Kebun di Belakang Rumah, Laba di Negara Seberang

Rani tumbuh di sebuah desa di Riung. Setiap pagi ia melihat ayahnya, Pak Jumadi, mengangkat tandan buah segar ke atas truk. Kebun mereka hanya dua hektare, tetapi dari situlah sekolah Rani dan adiknya dibiayai. “Sawit ini bukan sekadar tanaman, Ran. Ini masa depan keluarga kita,” kata ayahnya sering.

Beberapa kilometer dari kebun mereka berdiri pabrik besar: PT Sawitin Saja. Papan namanya megah, pagarnya tinggi, dan truk-truk keluar-masuk setiap hari. Kata orang, perusahaan itu Penanaman Modal Asing. Investasinya triliunan. Pemiliknya katanya dari Negara Siberani dan Kepulauan Dayman. Rani dulu bangga: desanya di Riung jadi terlihat maju karena ada investor asing.

Namun ada yang ganjil. Setiap tahun perusahaan itu mengaku rugi. Selalu rugi. Padahal pabriknya tidak pernah berhenti beroperasi. Sementara jalan desa menuju kebun tetap rusak, atap sekolah bocor, dan puskesmas sering kehabisan obat. Ayah Rani membayar pajak dari hasil menjual buah, meski kadang harga ditentukan sepihak oleh pabrik.

Suatu hari Rani magang di koperasi desa. Ia diminta membantu mengecek dokumen pengiriman. Di situ ia melihat sesuatu yang membuatnya bingung. CPO dari pabrik dikirim ke sebuah perusahaan di Negara Siberani, PT Sawit Cahaya International, dengan harga jauh lebih murah daripada harga pasar. Padahal, kata temannya yang bekerja di pelabuhan, kapal itu kadang tidak pernah benar-benar berhenti di Negara Siberani. Barangnya langsung menuju pembeli di negara lain. “Jadi kenapa harus mampir dulu di sana?” tanya Rani.

Temannya hanya berbisik: “Karena di sana ada perusahaan afiliasinya. Di kertas, mereka jual murah ke Negara Siberani. Di Negara Siberani, labanya besar. Di sini, pabriknya bilang rugi.”

Rani mulai mencari tahu. Ia membaca berita dan bertanya kepada seorang kakak tingkat yang bekerja di kantor pajak. Dari situ ia mendengar istilah transfer pricing. Kakak tingkat itu menjelaskan bahwa transfer pricing sendiri bukan hal ilegal. Perusahaan afiliasi memang boleh bertransaksi satu sama lain. Masalahnya muncul ketika harga yang dipakai tidak wajar dan tidak sesuai prinsip arm’s length—yakni harga yang seharusnya disepakati oleh pihak-pihak independen.

“Nah, di kasus seperti ini,” kata kakak tingkat itu, “ada beberapa modus yang sering dipakai.”

Ia membuka catatan dan menjelaskan satu per satu.

Pertama, under-invoicing dalam penjualan CPO. PT Sawitin Saja menjual CPO ke perusahaan afiliasinya di Negara Siberani dengan harga jauh di bawah harga pasar. Padahal, pembeli independen di India atau Eropa bersedia membayar lebih tinggi. Selisih harga itu menjadi keuntungan di Negara Siberani—negara dengan tarif pajak rendah—sementara laba yang dilaporkan di Negara Indira menjadi kecil atau bahkan rugi.

Kedua, royalti dan jasa manajemen. Setiap tahun, pabrik di Riung membayar “royalti merek” dan “jasa manajemen” kepada perusahaan induk di luar negeri. Nilainya besar, padahal jasanya sulit dibuktikan. Pembayaran ini mengurangi laba kena pajak di Negara Indira dan memindahkan keuntungan ke negara lain.

Ketiga, bunga pinjaman antarperusahaan. Perusahaan induk memberikan pinjaman kepada anak usahanya di Negara Indira dengan bunga yang jauh lebih tinggi daripada bunga pasar. Bunga itu menjadi biaya yang mengurangi laba di Negara Indira, sekaligus menjadi pendapatan bagi perusahaan di luar negeri.

Keempat, pembelian melalui perantara afiliasi. Alih-alih membeli suku cadang dan pupuk langsung dari pemasok, pabrik membeli melalui perusahaan afiliasi di Hong Kong dengan harga yang ditandai naik. Biaya di Negara Indira membengkak, keuntungan berpindah ke entitas perantara.

“Semua ini terlihat rapi di atas kertas,” kata kakak tingkat itu. “Ada kontrak, ada invoice, ada laporan. Tapi substansinya: laba dipindahkan dari Negara Indira ke yurisdiksi berpajak rendah. Itulah inti transfer pricing yang agresif.”

Malam itu Rani bertanya kepada ayahnya. “Pak, kalau perusahaan itu rugi terus, kenapa pabriknya masih jalan?”

Ayahnya menghela napas. “Mungkin yang rugi bukan perusahaannya, Ran. Mungkin yang rugi kita.”

Beberapa bulan kemudian, pemerintah menggelar audit besar-besaran terhadap ekspor sawit. Koran-koran ramai menulis tentang transfer pricing, under-invoicing, dan aliran dana ke surga pajak. Nama PT Sawitin Saja disebut. Tim pemeriksa menemukan bahwa harga jual ke afiliasi di Negara Siberani tidak sesuai dengan benchmark harga pasar. Mereka juga menemukan pembayaran royalti dan bunga pinjaman yang tidak didukung bukti substansi ekonomi. Dokumen TP Doc perusahaan ada, tetapi isinya tidak mencerminkan kenyataan.

Pemeriksa pajak kemudian melakukan koreksi. Laba perusahaan dinaikkan ke level yang seharusnya, dan negara menagih kekurangan pajak ditambah sanksi. Sebagian dana yang sempat “parkir” di luar negeri akhirnya ditarik kembali. Namun prosesnya panjang, dan tidak semua kerugian bisa dipulihkan.

Warga desa di Riung sempat berharap banyak. Tapi proses hukum berjalan lambat. Pabrik tetap beroperasi. Truk tetap lewat. Jalan tetap rusak. Hanya saja, kali ini ada papan pengumuman di kantor desa: “Hasil audit pajak perusahaan akan digunakan untuk perbaikan jalan dan puskesmas.” Rani tidak tahu apakah itu akan benar-benar terwujud. Tapi setidaknya, untuk pertama kalinya, ada yang mau membuka kotak hitam di balik harga yang selama ini terlihat “wajar”.

Suatu sore, Rani duduk di teras rumah, melihat ayahnya menghitung uang hasil panen. Di meja ada surat tagihan sekolah adiknya. Ayahnya tersenyum getir. “Yang penting kita jujur, Ran. Sekecil apa pun pajak kita, itu untuk jalan, untuk sekolah, untuk puskesmas.”

Rani mengangguk. Ia baru benar-benar paham bahwa transfer pricing yang agresif bukan hanya soal angka di laporan. Ia adalah atap sekolah yang bocor, obat yang tidak tersedia, dan jalan yang tidak pernah diperbaiki—meski setiap hari truk-truk besar melintas membawa kekayaan dari tanah mereka. Dan di kebun belakang rumah, ayahnya tetap menanam, tetap menjual, tetap membayar pajak—berharap suatu hari Negara Indira tidak lagi hanya kaya di atas kertas, tetapi juga adil di kehidupan nyata.

Catatan: Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian, ataupun cerita, itu adalah kebetulan semata.

Disclaimer On: Tulisan ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham tertentu. Keputusan Investasi/Trading sepenuhnya ada di tangan pembaca. Saham Daily tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari Keputusan Investasi/Trading yang dilakukan oleh Pembaca.

Mau berlangganan Buletin, Circular, Database Saham Daily, dan mendapatkan Info Saham Terkini, serta gabung ke Sahamdaily Circle, klik link di bawah ini:

Langganan Saham Daily Services: Buletin, Circular, Database & Info Saham Terkini

atau Whatsapp admin di 085737186163

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *