PT Barito Pacific Tbk (BRPT) memiliki potensi yang sangat besar dan unik karena portofolio bisnisnya yang terdiversifikasi di dua sektor utama yang krusial bagi perekonomian modern: petrokimia dan energi terbarukan.
Berikut adalah potensi PT Barito Pacific Tbk:
1. Segmen Petrokimia (melalui Chandra Asri Pacific)
Pemimpin Pasar Domestik: Melalui anak perusahaannya, PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), BRPT adalah produsen petrokimia terbesar dan satu-satunya pabrik naphtha cracker skala dunia di Indonesia. Perusahaan ini menguasai sekitar 50% pangsa pasar domestik untuk Olefin dan sekitar 30% untuk Polietilena dan Polipropilena, menjadikannya pemain dominan.
Proyek Ekspansi Besar (CAP2): Chandra Asri sedang menjalankan megaproyek petrokimia terintegrasi kedua mereka, yang dikenal sebagai CAP2. Proyek ini bertujuan untuk menggandakan kapasitas produksi dan mengurangi ketergantungan Indonesia pada impor bahan petrokimia. Setelah selesai, proyek ini akan memperkuat posisi Chandra Asri sebagai produsen petrokimia kelas dunia.
Diversifikasi Produk Baru: Chandra Asri juga terus memperluas lini produknya. Perusahaan sedang membangun pabrik Chlor Alkali-Ethylene Dichloride (CA-EDC) yang akan menghasilkan soda kaustik untuk kebutuhan domestik dan EDC untuk ekspor. Ini akan menambah pendapatan dan mendiversifikasi sumber keuntungan.
2. Segmen Energi Terbarukan (melalui Barito Renewables Energy)
Pemain Utama Geotermal: Melalui anak perusahaannya PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), BRPT adalah salah satu operator pembangkit listrik tenaga panas bumi (geotermal) terbesar di Indonesia, yang memiliki dan mengoperasikan aset geotermal produktif di Jawa Barat (Wayang Windu, Salak, dan Darajat).
Ekspansi Kapasitas: BREN secara aktif melakukan ekspansi untuk meningkatkan kapasitas pembangkitnya. Proyek-proyek seperti pembangunan unit baru Salak Binary dan Wayang Windu Unit 3 menunjukkan komitmen perusahaan untuk terus meningkatkan produksi listrik bersih. Perusahaan juga melakukan program modernisasi (retrofit) untuk memaksimalkan output dari fasilitas yang sudah ada.
Dukungan Pemerintah: Sektor energi terbarukan di Indonesia mendapat dukungan penuh dari pemerintah untuk mencapai target bauran energi bersih. Posisi BREN sebagai pemain kunci di sektor ini menempatkannya di jalur yang menguntungkan seiring dengan transisi energi nasional.
3. Sinergi dan Strategi Bisnis
Model Bisnis Terintegrasi: Portofolio bisnis BRPT yang mencakup petrokimia dan energi saling melengkapi. Segmen energi memberikan stabilitas pendapatan (recurring income) yang dapat mengimbangi volatilitas siklus industri petrokimia.
Posisi Keuangan yang Kuat: BRPT memiliki posisi keuangan yang solid, yang memberikan fleksibilitas untuk membiayai proyek-proyek ekspansi besar tanpa terlalu bergantung pada utang.
Kepemilikan Mayoritas oleh Konglomerat: Perusahaan dikendalikan oleh konglomerat Prajogo Pangestu, yang memberikan stabilitas, visi jangka panjang, dan akses ke jaringan bisnis yang luas.
Potensi PT Barito Pacific Tbk sangat kuat dan terdiversifikasi. Dengan posisinya yang dominan di industri petrokimia melalui Chandra Asri dan kepemimpinannya di sektor energi terbarukan melalui Barito Renewables, BRPT memiliki fundamental yang solid untuk pertumbuhan jangka panjang. Proyek-proyek ekspansi besar yang sedang berjalan, baik di sektor petrokimia maupun energi, menjadi katalis utama yang akan mendorong pertumbuhan pendapatan dan laba di masa depan.
PT Barito Pacific Tbk (BRPT) melakukan ekspansi dan akuisisi strategis untuk memperkuat posisinya di dua sektor utama: petrokimia dan energi terbarukan. Ekspansi ini sebagian besar dilakukan melalui anak-anak perusahaan andalannya.
1. Segmen Petrokimia (Melalui PT Chandra Asri Pacific Tbk)
Ekspansi terbesar BRPT di segmen petrokimia berpusat pada anak perusahaan yang juga merupakan andalan mereka, PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA).
BRPT mengakuisisi dan mengonsolidasikan kepemilikan saham mayoritas di Chandra Asri, menjadikannya produsen petrokimia terbesar dan terintegrasi di Indonesia. Akuisisi ini memungkinkan BRPT mengendalikan rantai nilai dari hulu ke hilir.
Proyek Ekspansi Besar (CAP2)
Saat ini, ekspansi utama Chandra Asri adalah pembangunan Kompleks Petrokimia Terintegrasi Kedua (CAP2). Proyek ini merupakan megaproyek dengan total investasi diperkirakan mencapai Rp 60 triliun hingga Rp 75 triliun. Tujuannya adalah untuk:
Menggandakan kapasitas produksi pabrik naphtha cracker dari 1,1 juta ton per tahun menjadi 2,1 juta ton per tahun.
Mengurangi ketergantungan Indonesia pada impor produk petrokimia yang mencapai sekitar Rp 28 triliun setiap tahun.
Menciptakan nilai tambah bagi negara dengan membangun industri petrokimia yang lebih mandiri dan kuat.
2. Segmen Energi Terbarukan (Melalui PT Barito Renewables Energy Tbk)
Ekspansi BRPT di sektor energi terbarukan dilakukan melalui anak perusahaan yang baru melantai di bursa, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN).
Pada tahun 2023, BRPT mengakuisisi secara penuh PT Barito Renewables Energy, yang di dalamnya termasuk kepemilikan atas Star Energy Geothermal. Akuisisi ini menjadikan BRPT sebagai pemain utama di sektor energi terbarukan di Indonesia.
Jika Anda ingin berlangganan Database Saham Daily dan mendapatkan Info Saham Terkini, klik link di bawah ini:
No HP Admin Sahamdaily : 085737186163. Website: www.sahamdaily.com
Kinerja keuangan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) pada semester I 2025 menunjukkan hasil yang beragam, mencerminkan dinamika di sektor petrokimia dan energi yang menjadi bisnis utama perusahaan.
Pendapatan: BRPT membukukan pendapatan sebesar US$ 3,22 miliar pada semester I 2025 naik 178,51% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, yang tercatat US$ 1,159 miliar.
Laba Bersih: BRPT berhasil mencatatkan laba bersih sebesar US$ 539,82 juta pada semester I 2025, naik 1.465,14% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya US$ 34,49 juta.
Aset: Total aset perusahaan tumbuh menjadi US$ 15,19 miliar per 30 Juni 2025, meningkat dari US$ 10,53 miliar pada akhir tahun 2024. Peningkatan ini didorong oleh investasi berkelanjutan pada proyek-proyek strategis.
Secara keseluruhan, meskipun BRPT menghadapi tantangan di sektor petrokimia, perusahaan menunjukkan ketahanan finansial. Proyek-proyek ekspansi yang sedang berjalan, seperti CAP2 dan pengembangan pembangkit geotermal, diharapkan dapat menjadi katalis positif yang kuat untuk pertumbuhan kinerja di semester-semester mendatang.
Ownership
PT Barito Pacific Tbk (BRPT) dikuasai dan dikendalikan oleh salah satu konglomerat terkaya di Indonesia, Prajogo Pangestu. Ia adalah pendiri dan pemilik manfaat terakhir (ultimate beneficial owner) dari seluruh bisnis Barito Group.
Berikut adalah rincian kepemilikan dan struktur pengendali PT Barito Pacific Tbk:
Pemilik Manfaat Terakhir
Pemilik manfaat utama dan pengendali dari PT Barito Pacific Tbk adalah Prajogo Pangestu memegang 71,36% saham BRPT. Kendali ini diimplementasikan melalui kepemilikan langsung maupun tidak langsung pada perusahaan-perusahaan di bawah payung Barito Group.
Selain itu, sebagian kecil saham juga dimiliki oleh masyarakat (publik) sekitar 28,59%.
Dewan Komisaris dan Direksi
Untuk memastikan kendali operasional dan strategis, anggota keluarga dan individu terpercaya yang dekat dengan Prajogo Pangestu memegang posisi kunci dalam manajemen perusahaan:
Prajogo Pangestu: Presiden Komisaris Utama
Agus Salim Pangestu: Presiden Direktur (Putra Prajogo Pangestu)
Dengan kepemilikan yang terkonsolidasi dan manajemen yang dijalankan oleh orang-orang terdekatnya, Prajogo Pangestu memiliki kontrol penuh atas arah strategis dan operasional perusahaan. Hal ini memungkinkan implementasi proyek-proyek besar seperti ekspansi Chandra Asri Pacific dan akuisisi di sektor energi terbarukan dapat berjalan dengan mulus.
Disclaimer On: Tulisan ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham tertentu. Keputusan Investasi/Trading sepenuhnya ada di tangan pembaca. Sahamdaily tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari Keputusan Investasi/Trading yang dilakukan oleh Pembaca.