Sahamdaily-24 Januari 2026
Perubahan metodologi perhitungan free float MSCI diperkirakan berdampak negatif pada saham yang kepemilikan sahamnya terkonsentrasi pada pemegang saham strategis, seperti konglomerasi, institusi, atau kepemilikan korporasi besar. Kategori kepemilikan ini mungkin akan dikeluarkan dari perhitungan free float MSCI yang baru, sehingga bobot (weight) saham dalam indeks dapat dipangkas dan memicu aksi jual dana pasif.
Dampak Umum dan Daftar Saham yang Perlu Diperhatikan
Dampak terbesar diprediksi terjadi pada saham berkapitalisasi besar (big caps) yang menjadi konstituen MSCI dan memiliki kepemilikan yang tidak terlalu tersebar kepada publik. Beberapa saham spesifik yang disebutkan berisiko mengalami tekanan antara lain:
Saham dengan Kepemilikan Pengendali Tinggi
· PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN): Kepemilikan oleh Prajogo Pangestu mencapai 84%, sehingga rentan terdampak.
· PT Barito Pacific Tbk (BRPT): Dikuasai pemegang saham pengendali sebesar 71,36%, meskipun pihak emiten menyatakan keyakinan tidak akan terdampak.
· PT Bank Central Asia Tbk (BBCA): Berdasarkan simulasi MSCI, saham ini diperkirakan mengalami arus keluar dana asing (outflow) terbesar. Hal ini tercermin dari aksi jual asing yang signifikan sejak awal Januari 2026.
Saham di Area Risiko Lainnya, terdapat empat saham yang floating market cap-nya mendekati batas minimum MSCI, sehingga berpotensi terdampak jika terjadi penyesuaian metodologi yang lebih ketat:
1. Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT)
2. Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA)
3. Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN)
4. Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) saham ini juga disebut berpotensi terdampak.
Untuk memahami dampak potensial ini dengan lebih baik, mari kita lihat faktor-faktor yang membuat suatu saham rentan.
Mengapa Saham-saham Ini Rentan?
Perubahan metodologi berfokus pada transparansi kepemilikan yang sebenarnya. Kategori saham berikut paling berisiko dikurangi bobotnya:
· Kepemilikan Korporasi/Keluarga: MSCI menganggap kepemilikan oleh korporasi atau afiliasi sebagai bagian dari kepemilikan strategis, bukan free float murni.
· Saham dalam Bentuk Fisik (Scrip): Saham warkat yang belum dikonversi secara elektronik mungkin tidak lagi dianggap tersedia untuk diperdagangkan.
· Kepemilikan Strategis Tersembunyi: Kepemilikan yang dipecah-pecah di bawah 5% sehingga tidak wajib dilaporkan kepada bursa, tetapi sebenarnya terkendali oleh pihak yang sama.
Strategi Menghadapi Potensi Dampak
Untuk mengelola portofolio dalam situasi ini, beberapa langkah yang bisa dipertimbangkan:
1. Pantau Pengumuman Resmi: Tunggu pengumuman hasil konsultasi yang dijadwalkan 30 Januari 2026 dan implementasi final di peninjauan Mei 2026.
2. Fokus pada Fundamental: Aksi jual akibat rebalancing indeks seringkali bersifat teknis dan sementara. Jika saham dengan fundamental kuat terkoreksi, hal ini bisa menjadi peluang membeli di harga yang lebih menarik (buy on weakness).
3. Diversifikasi Portofolio: Pertimbangkan untuk tidak terlalu terkonsentrasi pada saham-saham dengan struktur kepemilikan yang terkonsentrasi dan free float rendah.
Secara umum, koreksi IHSG akhir-akhir ini mencerminkan antisipasi pasar terhadap potensi outflow dari perubahan aturan MSCI ini.
@sahamdaily
Disclaimer On: Tulisan ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham tertentu. Keputusan Investasi/Trading sepenuhnya ada di tangan pembaca. Saham Daily tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari Keputusan Investasi/Trading yang dilakukan oleh Pembaca.
Jika ingin berlangganan artikel karya Saham Daily edisi BULETIN dan CIRCULAR, klik link di bawah ini atau Whatsapp ke 085737186163
Langganan Saham Daily Services: Buletin, Circular, Database & Info Saham Terkini